25 Ogos 2010

Wanita di Bawah Naungan Islam : Langkah-Langkah Talak

14 Ramadhan 1431 H
Oleh: Said Abdul Aziz al-Jandul


Di atas telah kita katakan, bahwa sesungguhnya talak atau perceraian itu adalah sesuatu yang tidak disukai Allah, dan Allah telah menetapkan berbagai cara agar perceraian dapat dihidarkan dan tidak terjadi. Di antara cara-cara yang seharusnya ditempuh untuk menghindari terjadinya perceraian itu adalah:

Nasihat dan teguran dengan cara yang baik apabila terjadi kles atau perselisihan di antara suami dan istri.Setelah itu menjaga jarak dari istri ketika tidur di kasur.Lalu berpindah pada hukuman fisik (yang tidak membahayakan).

Kemudian membentuk semacam pengadilan keluarga yang berupaya menghilangkan kekacauan, mengembalikan hati mereka kepada kejernihan berfikir dan kasih sayang.

Lebih dari itu, apabila semua upaya telah dilakukan untuk mencegah terjadinya perceraian dan agar masing-masing suami dan istri mempunyai kesempatan untuk introspeksi diri sebelum sesuatu yang tidak diingin terjadi yang kemungkinan sesudah itu tidak ada pertemuan lagi, maka Islam menetapkan talak itu dilakukan secara bertahap melalui langkah-langkah berikut:

Langkah pertama, dan inilah yang sunnah, yaitu mencerai istri satu kali (talak satu) pada waktu istri suci sesudah haid dan tidak terjadi hubungan seks pada waktu itu. Pada talak ini suami boleh merujuk istrinya kembali dan mempergauli-nya sebagaimana lazimnya suami istri tanpa akad, tanpa mahar dan tanpa saksi. Hal ini berlaku selagi sang istri masih dalam masa ‘iddah.

Kalau suami tidak menyatakan akan merujuk istrinya hingga masa ‘iddah habis, maka talak di atas menjadi talak ba’in. Artinya, sang suami tidak boleh merujuk istrinya kecuali kalau sang istri rela dan harus dilakukan dengan mahar dan akad ulang.

Langkah kedua, Apabila istri telah kembali kepada suaminya sesudah talak yang pertama, kemudian terjadi lagi perseli-sihan di antara mereka berdua, maka di sinilah langkah kedua di jalankan.

Yaitu dimulai dengan upaya ishlah dan berdamai di antara mereka sebagai langkah lain untuk mengembalikan kedamaian dan rasa kasih-sayang. Lalu apabila berbagai upaya sudah tidak membuahkan hasi fositif sebagaimana dikehendaki, maka talak harus dilakukan.

Sunnahnya pada langkah ini adalah menceraikannya dengan talak satu pada saat suci sesudah haid dan tidak terjadi hubungan jima’ pada waktu suci tersebut. Hal itu untuk memberikan kesempatan kepada keduanya untuk kedua kalinya, barangkali masing-masing berfikir akan efek-efeknya kalau terjadi perceraian,

dan masing masing merenung apa yang akan terjadi kalau mereka berdua tidak berdamai dari perselisihan sesudah talak yang kedua ini mempunyai konsekwensi hukum sebagaimana pada talak yang pertama. Dengan arti lain, bahwasanya kalau sang suami hendak merujuk istrinya sesudah talak kedua ini,

maka boleh ia lakukan tanpa mahar, tanpa akad dan juga tanpa saksi selagi sang istri masih dalam masa ‘iddah. Dan kalau masa ‘iddah berlalu, sang suami boleh merujuk istrinya namun dengan syarat sang istri menyetujui, dengan mahar dan akad baru.

Langkah ketiga, apabila sang istri telah kembali kepada sang suami sesudah talak kedua, lalu terjadi lagi pertikaian dan semua upaya pun telah dilakukan untuk islah, namun tidak berguna dan talak adalah solusi terakhir yang paling baik untuk mengakhiri konflik,

maka sang suami melakukan talak satu kali sesudah suci dari haid dan tidak terjadi hubungan jima’ pada masa itu. Maka perceraian yang terjadi menjadi talak ba’in, tidak boleh dirujuk kecuali kalau istri menikah secara sah dengan lelaki lain sesudah masa ‘iddahnya berlalu,

kemudian lelaki tadi menceraikannya. Maka, suami yang pertama boleh merujuk mantan istri itu berdasarkan persetujuannya dengan akad ulang dan mahar baru serta adanya saksi.

Refleksi Ramadhan : Sepuluh Hari Terakhir

14 Ramadhan 1431 H
Oleh: Syaikh

RENUNGAN KE -22

Dalam sepuluh hari terakhir Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bersungguh-sungguh terhadap hal-hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya, karena itu beliau beri’tikaf pada hari tersebut dan dipergunakannya untuk mencari Lailatul Qadar.

Dalam As-Shahihain, Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli istrinya).” (HR. Al-Bukhari).

Imam Muslim menambahkan, “Dan bersungguh-sungguh serta mengencangkan kainnya.”

Kalimat “wasadda mi’zarahu” maknanya adalah kiasan dari sebuah persiapan untuk beribadah dan bersungguh-sungguh padanya melebihi dari biasanya, artinya mengoptimalkan ibadah.

Seperti dikatakan dalam bahasa Arab Syadadtu lihadzal amri mi’zari yakni memperkuat dan mengencangkan kainku demi urusan ini.

Dan menurut pendapat lain maknanya adalah kiasan dari menjauhkan diri dari menggauli istrinya. Makna ini yang paling tepat karena kiasan seperti ini telah terkenal di kalangan orang Arab, sebagaimana dalam syairnya:

Suatu kaum apabila berperang
Mereka mengencangkan kainnya
Kemudian tidak menggauli istrinya
Kendatipun dalam keadaan suci

Dan makna “ahyal laila” ialah mengisi malam dengan melakukan shalat dan lainnya sebagaimana dikatakan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, “Aku tidak tahu Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam membaca Al-Qur'an tamat (selesai) satu malam, juga qiyamullail semalam suntuk sampai Shubuh, serta puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan.” (HR. An-Nasa’i).

Makna kalimat “ahyal lail” dapat diertikan melakukan qiyamullail pada sebagian besar malam atau semalam suntuk selain waktu Isya’ dan sahur, maka jadilah maksudnya menghidupkan sebagian besar malam.

Dan makna “wa aiqazha ahlahu” ialah beliau membangunkan istri-istrinya agar melakukan shalat qiyamullail, dan sudah dimaklumi bahwa beliau senantiasa membangunkan keluarganya di sepanjang tahun tetapi tidak untuk semalam suntuk, dalam Shahih Al-Bukhari dikatakan, “Pada suatu malam, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bangun dan berkata,

سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ.

‘Subhanallah fitnah apa yang akan diturunkan pada malam ini .. dan apa yang akan diturunkan dari perbendaharaan.. dan siapa yang dapat membangunkan orang yang sedang tidur di kamarnya .

betapa banyak orang yang berpakaian di dunianya tetapi telanjang di akhiratnya.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam membangunkan Aisyah radhiallahu ‘anhu apabila beliau hendak melakukan shalat witir, akan tetapi pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan beliau membangunkan keluarganya lebih tampak jelas dari hari-hari yang lainnya.

Refleksi Ramadhan : I’tikaf

14 Ramadhan 1431 H
Oleh: Syaikh

RENUNGAN KE -21

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat taat kepada Allah Ta’ala. Ia disyari’atkan dan hukumnya sunnah menurut kesepakatan para ulama. Imam Ahmad berkata “Saya tidak tahu komentar seorang pun dari para ulama kecuali i’tikaf itu disunnahkan.

” Imam Malik berkata, “Saya telah merenungkan masalah i’tikaf serta hadits-hadits tentangnya, tapi kenapa kaum muslim meninggalkannya? Padahal Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam belum pernah meninggalkannya, menurut saya mereka me-ninggalkannya karena terasa berat oleh mereka.

” Dan beliau berkata, “Saya tidak mendapatkan seorang pun dari salaf bahwa yang beri’tikaf itu hanya Abu Bakar bin Abdur Rahman saja.” Apa yang dikatakan Imam Malik ini sebenarnya telah didapatkan dari orang-orang salaf ternyata mereka beri’tikaf.

Az-Zuhri rahimahullah Berkata, “Saya heran melihat kaum muslim! Kenapa mereka meninggalkan i’tikaf padahal Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam tidak pernah meninggalkannya sejak kedatangannya ke Madinah sampai Allah menjemputnya.”

Rahasia i’tikaf

Sesungguhnya dalam ibadah terdapat rahasia dan hikmah yang banyak, karena poros amal itu ada pada hati, sebagaimana dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam dalam haditsnya,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ.

“Ingatlah sesungguhnya pada jasad itu terdapat segumpal darah, bila ia baik maka baiklah seluruh jasadnya, dan bila rusak maka rusaklah seluruh jasadnya, ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kebanyakan yang merusak hati itu adalah permainan yang melalaikan dan berbagai aktifitas yang memalingkan dari Allah Ta’ala, seperti makanan dan minuman yang berlebih-lebihan, perempuan, banyak bicara,

banyak tidur, banyak persahabatan dan yang lainnya dari hal-hal yang membuat hati rusak dan hilangnya ketaatan kepada Allah, maka Allah Ta’ala kemudian mensyari’atkan berbagai bentuk penghambaan kepada-Nya demi terjaganya hati,

puasa misalnya, itu sebagai sarana untuk memperkuat perjalanan seseorang menuju Allah Ta’ala dan menyelamatkan diri dari tipuan syahwat yang selalu memalingkan dia sehingga asik dengan urusan dunia dan lupa akan akhirat.

Sesungguhnya menahan diri dari segala keinginan di saat berpuasa adalah penahanan yang seimbang, tidak seperti pada agama dan ajaran-ajaran yang lain di mana mereka melakukannya dengan ghuluw (berlebih-lebihan) seperti puasa sebu-lan penuh siang dan malam,

atau tidak makan dan minum serta tidak tidur dalam beberapa hari, atau mengubur diri, atau menganiaya diri, atau yang lainnya; ini semua tidak terdapat dalam ajaran Islam, tetapi yang ada adalah puasa yang seimbang (tidak berlebih-lebihan) yang dengannya lahirlah pembinaan diri, pemeliharaan hati, dan peningkatan ruh.

Sebagaimana puasa merupakan prisai hati dari segala bentuk yang bernuansa hawa nafsu seperti berlebih-lebihan dalam makan dan minum serta berhubungan suami istri, maka juga sama halnya dengan i’tikaf di dalamnya terdapat rahasia yang agung yaitu

memelihara seseorang dari pengaruh persahabatan yang berlebih-lebihan, karena persahabatan terkadang membawa dia keluar dari koridornya, maka keadaannya laksana orang sakit perut dikarenakan makanan yang ia makan.

Penyair berkata:

Bisa jadi musuh itu datang dari temanmu
Maka janganlah memperbanyak persahabatan
Karena penyakit seringkali terjadi
Disebabkan makanan dan minuman

Di samping itu i’tikaf juga bisa menjaga hati dari segala bahaya lisan karena di saat i’tikaf ia mengkonsentrasikan dirinya kepada Allah Ta’ala melalui shalat, baca Al-Qur'an, dzikir, berdoa, dan yang lainnya. I’tikaf juga bisa menjaga seseorang dari banyak tidur, karena ketika itu ia sedang bertaqarrub kepada Allah dengan berbagai macam ibadah, bukan untuk tidur di masjid.

Dengan demikian seseorang tidak dapat dipungkiri keberhasilannya dalam upaya penyelamatan dirinya dari penyakit persahabatan, bicara, dan tidur melalui infestasi i’tikaf yang ia lakukan.

Memadukan shaum (puasa) dan i’tikaf

Tidak dapat dipungkiri bahwa berpadunya beberapa faktor untuk menghilangkan hal-hal yang dapat menghalangi dari ketaatan kepada Allah, itu akan lebih dapat menjadikan seseorang lebih terfokus dalam beribadah kepada Allah Ta’ala karena itu para salaf menyunnahkan untuk memadukan antara shaum (puasa) dan i’tikaf, sehingga Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Tidak pernah diriwayatkan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bahwa beliau beri’tikaf dalam keadaan tidak puasa.” Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, “Tidak ada i’tikaf kecuali dalam keadaan puasa.” (HR. Abu Daud).

Allah tidak pernah menyebut I’tikaf kecuali selalu diiringi dengan shaum, Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam juga tidak pernah melakukannya kecuali diiringi dengan shaum.

Maka pendapat yang kuat menurut mayoritas salaf: “Bahwa puasa adalah syarat i’tikaf,” pendapat ini diperkuat juga oleh Syaikh Islam Abdul Abbas Ibnu Taimiyyah.

Mengenai masalah puasa syarat i’tikaf telah diriwayatkan juga dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas, dan ini adalah pendapat Imam Malik, Al-Auza’i, dan Abu Hanifah. Adapun pendapat Imam Ahmad dan Imam Syafi’i tentang hal ini masih diperselisihkan, dan mengenai perkataan Imam Ibnul Qayyim tentang

“Tidak diriwayatkan sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam bahwa beliau beri’tikaf dalam keadaan tidak puasa.” Pernyataan tersebut perlu ditinjau kembali, karena dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam sempat i’tikaf pada bulan Syawwal (Al-Bukhari dan Muslim) dan tidak ada kepastian pada waktu itu beliau puasa atau tidak.

Maka yang paling tepat adalah orang yang melaksanakan i’tikaf disunnahkan untuk berpuasa, tetapi puasa itu bukan syarat sahnya i’tikaf.

I’tikaf Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam beri’tikaf pada sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan, beliau juga pernah i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan, di situlah beliau mencari Lailatul Qadar,

tetapi setelah mendapatkan kejelasan bahwa Lailatul Qadar terdapat pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, maka beliau membiasakan i’tikaf pada hari-hari tersebut. Abu Sa’id Al-Khudri berkata,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari pertengahan pada bulan Ramadhan, ketika sudah lewat dua puluh malam dan masuk di malam kedua puluh satu, beliau pulang ke rumahnya begitu juga orang-orang yang ikut bersamanya, tetapi kemudian beliau melaksanakan lagi pada bulan yang sama, lalu berkhutbah dan berkata,

إِنِّي كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَبِتْ فِي مُعْتَكَفِهِ وَقَدْ رَأَيْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فَأُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ وِتْرٍ وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ.

‘Sesungguhnya aku baru saja beri’tikaf pada sepuluh hari (pertengahan), kemudian telah jelas bagiku untuk aku beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir ini, maka siapa yang i’tikaf bersamaku hendaklah ia mabit (tidur) di tempat i’tikafnya, karena aku telah melihat lailatul qadar,

tetapi aku lupa lagi (hari dan tanggalnya) karena itu carilah pada sepuluh hari terakhir pada setiap hitungan yang ganjil, dan sungguh aku telah mimpi bersujud dalam keadaan basah dengan air dan berlumuran dengan tanah.” (HR. Al-Bukhari Muslim).

Abu Sa’id berkata, “Pada malam ke-21 kami diguyuri hujan sehingga atap masjid bocor dengan air hujan, aku melihat beliau shallallahu ‘alaihui wasallam selesai melaksanakan shalat Shubuh wajahnya basah dengan air hujan yang sudah bercampur dengan debu, maka sangat benarlah apa yang dikatakan olehnya (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan inilah sebagian dari tanda kenabiannya.”

Kemudian setelah itu, beliau senantiasa melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir sebagaimana dikatakan dalam Shahihain dari hadits Aisyah radhiallahu ‘anha: “Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam senantiasa melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau menemui ajalnya, kemudian istri-istri beliau melaksanakan i’tikaf setelahnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan pada tahun kewafatannya beliau melaksanakan i’tikaf sampai dua puluh hari yaitu sepuluh hari pertengahan dan sepuluh hari terakhir, hal tersebut karena ada beberapa faktor:

Pertama: Pada tahun tersebut jibril mengajak beliau untuk mudarasah Al-Qur'an dua kali, maka tepatlah kalau beliau melaksanakan i’tikaf sampai dua kali, sehingga tercapai apa yang diinginkan.

Kedua: Beliau shallallahu ‘alaihui wasallam berkeinginan keras untuk melipatgandakan amal shalehnya serta ketaatannya kepada Allah Ta’ala, bisa jadi karena perasaan beliau akan dekatnya ajal. Sebagaimana dipahami dari firman Allah Ta’ala,

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3).

Dalam surat tersebut Allah Ta’ala menyuruh Nabi-Nya shallallahu ‘alaihui wasallam untuk memperbanyak tasbih dan beristighfar di akhir usianya, maka begitulah beliau dalam ruku dan sujudnya sering berdoa dengan: “Subhanakallahumma Wabihamdika Allahumagfirli” (Maha Suci Engkau ya Allah, dengan segala puji bagi-Mu, ya Allah, aku memohon ampun).

Ketiga: Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam melakukan hal tersebut karena ingin mewujudkan rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang telah diberikan kepadanya seperti amal shaleh, jihad, ta’lim, puasa, qiyamullail, keistimewaannya, turunnya Al-Qur'an, dan yang lainnya.

Faktor inilah faktor yang paling tampak –wallahu a’lam– yang memotifasi beliau beri’tikaf sampai dua puluh hari pada tahun kewafatannya.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam memulai i’tikafnya sebelum matahari terbenam, misalnya jika seseorang mau i’tikaf pada sepuluh hari pertengahan hendaknya dia masuk masjid pada malam kesebelas sebelum terbenam matahari, dan apabila i’tikafnya pada sepuluh hari terakhir hendaknya ia masuk masjid pada malam ke-21 sebelum terbenam matahari.

Adapun riwayat yang terdapat dalam hadits shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam sehabis shalat fajar kemudian masuk ke tempat i’tikafnya, maksudnya ke tempat khusus bukan tempat i’tikaf beliau, sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa beliau beri’tikaf pada sebuah kubah turkiyyah (kubah buatan Turki).

Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam di saat i’tikaf sempat mengeluarkan kepalanya kepada Aisyah radhiallahu ‘anha yang sedang ada di kamarnya, kemudian ia mencucinya dan menyisir rambutnya padahal ia sedang haid. Begitulah yang dikatakan dalam Shahihain. Dan dalam Mus-nad Ahmad dikatakan beliau bersandar ke pintu kamar Aisyah, lalu mengeluarkan kepalanya kemudian Aisyah menyisir rambutnya.

Dengan hadits tersebut menunjukkan bahwa seorang mu’takif (orang yang beri’tikaf) tidak apa-apa mengeluarkan sebagian anggota badannya seperti tangan, kaki, atau kepala.

Begitu juga wanita haid tidak apa-apa memasukkan tangan atau kakinya ke masjid, karena hal tersebut tidak termasuk kategori masuk masjid. Faidah lain dari hadits di atas ialah: bahwa seorang mu’takif tidak berdosa apabila mandi, pakai parfum, mencuci kepalanya, serta menyisir rambutnya, itu semuanya tidak membatalkan i’tikaf.

Sebagian peristiwa yang terjadi pada Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam di saat melaksanakan i’tikaf adalah hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam apabila mau i’tikaf beliau shalat fajar (Shubuh) kemudian masuk ke tempat i’tikafnya, dan sesungguhnya beliau meminta agar dibuatkan baginya kamar khusus,

maka dibuatkanlah, ketika itu beliau merencanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir, pada waktu yang sama istri beliau Zainab meminta agar dibuatkan baginya kamar khusus maka dibuatkanlah, begitu juga istri beliau yang lainnya meminta agar dibuatkan kamar khusus maka dibuatkanlah, sehabis shalat fajar Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam melihat kamar-kamar khusus tersebut, lalu berkata, ‘Apakah kebaikan yang kalian inginkan?’

Maka beliau menyuruh membongkarnya, maka dibongkarlah kamar-kamar tersebut. Akhirnya Nabi membatalkan rencana i’tikafnya pada bulan Ramadhan tersebut dan menggantikannya di sepuluh hari pertama pada bulan Syawwal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Makna “albirro turidna” ialah apakah yang memotifasi perbuatan ini, kebaikan atau karena cemburu ingin dekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Yang jelas dari hadits tersebut wallahu a’lam bahwa i’tikafnya beliau shallallahu ‘alaihui wasallam pada bulan Syawwal di tahun yang sama mulainya setelah hari ‘Ied yakni ada tanggal 2 Syawwal,

tetapi mungkin juga beliau memulainya pada hari ‘ied, jika hal ini shahih maka itu menjadi dalil bahwa dalam i’tikaf tidak disyaratkan puasa, karena pada hari ‘Ied tidak boleh puasa.

Peristiwa lain yang terjadi dalam i’tikaf Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam adalah: “Shafiyah istri Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam sempat datang menemui beliau di masjid ketika i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan, maka ia berbincang-bincang bersamanya sekitar satu jam,

kemudian berdiri untuk pulang, Nabi pun ikut berdiri lalu menciumnya, ketika sampai di pintu masjid dekat pintu Ummu Salamah, tiba-tiba lewat dua orang laki-laki dan mengucapkan salam kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam berkata kepada mereka, ‘Jangan tergesa-gesa! Dia itu Shafiyah binti Huyay.

’ Kata mereka dengan penuh keterkejutan ‘Subhanallah Ya Rasulullah!’ Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam berkata, ‘Sesungguhnya syetan merasuk manusia sesuai dengan aliran darahnya dan sesungguhnya aku khawatir ada sesuatu yang dilemparkan pada hati kalian,” dalam lafazh lain ‘kejahatan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Karena besarnya perhatian beliau shallallahu ‘alaihui wasallam akan kebenaran iman dua sahabat Anshar, serta kekhawatirannya terjadi sesuatu pada hati mereka akibat ulah syetan yang pada akhirnya mereka ragu-ragu terhadap kebenaran Rasulullah shallallahu ‘alaihui wasallam lantas mereka menjadi orang kafir atau mereka disibukkan dengan mengkonter bisikan syetan seperti ini,

maka Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam menjelaskan duduk perkaranya bahwa dia itu adalah istrinya Shafiyah radhiallahu ‘anha.

Begitulah salah satu kisah yang terjadi pada i’tikafnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tentunya dalam kisah tersebut terdapat hikmah dan pelajaran yang baik bila kita cermati, kalaulah tidak khawatir keluar dari bahasan kita.

Catatan Penting Seputar I’tikaf

Pertama: beberapa para analis berpendapat bahwa tidak ada syari’at i’tikaf selain pada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi. Pendapat yang benar adalah i’tikaf boleh diselenggarakan di setiap masjid yang didirikan padanya shalat lima waktu. Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.” (Al-Baqarah: 187).

Maka kata “fil masjid” kata umum menunjukkan bolehnya beri’tikaf pada setiap masjid, tetapi dianjurkan diselenggarakan pada masjid jami’ sehingga seorang mu’takif tidak usah keluar masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.

Adapun hadits,

لاَ اِعْتِكَافَ إِلاَّ فِي الْمَسَاجِدِ الثَّلاَثَةِ.

“Tidak ada i’tikaf selain pada tiga masjid.”

Berdasarkan pendapat bahwa hadits tersebut shahih, maksudnya adalah bahwa i’tikaf yang paling sempurna dilakukan pada tiga masjid tersebut, begitulah dikatakan oleh para ulama.

Akan tetapi terdapat dalam benak saya ta’wil lain dari hadits tersebut yaitu: hadits tersebut dimaksudkan untuk orang yang bernadzar i’tikaf di sebuah masjid yang jauh, maka baginya tidak usah pergi kecuali bilamana ia bernadzar i’tikaf di salah satu masjid tersebut.

Misalnya seseorang bernadzar i’tikaf di masjid Jawatsa (masjid yang pertama didirikan shalat Jum’at di luar kota Madinah, masjid tersebut sampai sekarang masih dikenal),

maka baginya tidak usah memaksakan diri untuk pergi ke masjid tersebut tetapi ia menggantikannya dengan salah satu masjid yang ada di negerinya, atau ia pergi ke salah satu masjid yang tiga kemudian ia beri’tikaf di sana.

Dan apabila seseorang bernadzar i’tikaf di Masjidil Haram maka wajib baginya melaksanakan nadzarnya, akan tetapi bilamana ia bernadzar i’tikaf di Masjid Nabawi misalnya, maka boleh baginya i’tikaf di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram karena Masjidil Haram lebih afdhal dari Masjidil Nabawi.

Seandainya seseorang bernadzar I’tikaf di masjidil Aqsha, maka boleh baginya I’tikaf di masjidil Aqsha atau masjidil haram dan masjid nabawi, karena keduanya lebih afdhal (utama) dari masjidil Aqsha.

Kesimpulannya, maksud hadits La i’tikafa illa fil masjidits tsalatsah” ialah: tidak ada i’tikaf yang dilakukan karena nadzar dan di sebuah masjid yang harus ditempuh dengan perjalanan yang jauh, dan bahwasanya i’tikaf boleh dilakukan pada setiap masjid jami’

sebagaimana ijma’nya para ulama –imam yang empat– dan tidak ada satu pun dari ulama yang terkenal baik imam yang empat atau imam yang sepuluh serta yang lainnya mengatakan tidak ada i’tikaf selain di tiga masjid kecuali Hudzaifah radhiallahu ‘anhu dan satu atau dua orang saja dari Salaf.

Kedua: Sebagian orang masih ada yang mengira bahwa i’tikaf sebagai kesempatan untuk mengasingkan diri dari teman-teman dan handai taulannya sekaligus memutuskan pembi-caraan dengan mereka, hal ini tidak baik.

Tidak ada salahnya i’tikaf dilakukan secara berjama’ah di masjid, Nabi sendiri sempat i’tikaf bersama istri-istrinya, bahkan sebagian mereka ada yang sedang istihadah, karena itu tidak berdosa seseorang beri’tikaf bersama temannya, kerabatnya, dan istrinya.

Yang tidak dibolehkan manakala i’tikaf dijadikan sebagai kesempatan untuk begadang, ngobrol kesana kemari dan sebagainya. Imam Ibnul Qayyim setelah mengkritisi apa yang dilakukan sebagian orang-orang yang bodoh di mana mereka menjadikan i’tikaf sebagai ajang untuk ngobrol,

menarik orang-orang pendatang serta tempat persahabatan, beliau berkata, “I’tikaf mereka berada pada suatu model, dan i’tikaf Nabi shallallahu ‘alaihui wasallam berada pada model yang lain.”

Ketiga: Sebagian orang ada yang meninggalkan pekerjaan dan tugasnya serta kewajibannya hanya karena i’tikaf, perbuatan seperti ini tidak baik, karena tidak dikatakan adil manakala seseorang meninggalkan yang wajib agar dapat melaksanakan yang sunnah,

oleh karena itu, wajib bagi mereka yang telah meninggalkan kewajibannya untuk menghentikan i’tikafnya dan kembali kepada kewajibannya.

Kilang Pinggan Mangkuk Muslim Tangshan, Hebei

14 Ramadhan 1431 H

Baru-baru ini, wartawan kami membuat liputan ke Kilang Tembikar Muslim Bulan Sabit Tangshan, provinsi Hebei di China. Sewaktu masuk ke kilang tersebut, kita boleh melihat halaman kilang tersebut hampir dipenuhi dengan pelbagai tembikar yang berwarna-warni.

Corak pada muka tembikar tersebut terdapat tulisan khat Arab dan lukisan yang dipenuhi keistimewaan budaya Islam.Kilang yang hanya mempunyai 9 orang petugas itu telah dibuka oleh Haji Hong Guifu, berusia 74 tahun. Beliau seorang Muslim yang taat kepada ajaran agama.

Walaupun sudah bersara dari sebuah sekolah, namun beliau masih sibuk dengan urus niaganya untuk menghasilkan dan menjual tembikar.

Konsep pinggan mangkuk tergolong dalam alat untuk minum, makan dan alat untuk mengisi kandungan sudah terdapat dalam budaya Yangshao pada zaman Batu Baru di kawasan pengaliran Sungai Kuning di China. Ini memperlihatkan betapa pentingnya pinggan mangkuk dalam kebudayaan makanan.

Menurut Haji Hong Guifu, beliau mula berfikir untuk membuka sebuah kilang menghasilkan pinggan mangkuk yang bercirikan Islam pada tahun 1989. Ilham tersebut timbul kerana keninginannya menonjolkan keistimawaan budaya makanan halal orang Islam.

Beliau berhasrat untuk menggabungkan semua keistimewaan etnik-etnik yang beragama Islam itu dalam reka bentuk pinggan mangkuk tembikar.

Dengan demikian, beliau membuka Kilang Tembikar Muslim Bulan Sabit Tangshan. Pada mulanya, beliau cuba menulis tulisan khat Arab dan melukis pemandangan atau corak-corak lain di muka pinggan mangkuk tembikar yang dihasilkannya.

Beliau bersungguh-sungguh untuk menghasilkan pinggan mangkuk tembikar Muslim dan benar-benar mahu melihat tembikar yang dihasilkannya mendapat sambutan. Malangnya apa yang berlaku sangat mengecewakan beliau.

Apabila beliau tiba Beijing dengan membawa pinggan mangkuk untuk mencari peluang kerjasama dengan sebuah kedai yang khusus menjual barang keperluan orang Islam, tuan kedai itu bersikap dingin terhadap beliau.

Biarpun berasa amat kecewa, namun Haji Hong Guifu tidak putus asa. Beliau terus berazam mencari pasaran untuk tembikarnya. Memang seperti apa yang pernah beliau harapkan, sebuah rancangan di TV telah memaparkan mengenai pinggan mangkuk yang dihasilkannya.

Rancangan TV tersebut yang membuat liputan di sekitar kediaman etnik Hui di kawasan Niujie, iaitu kawasan terbesar di Beijing yang didiami etnik Hui. Dua keluarga yang dipaparkan dalam program TV itu menggunakan pinggan mangkuk yang dihasilkan daripada kilang beliau.

Beliau berasa sangat besar hati ketika menonton rancangan itu kerana pinggan mangkuk yang dihasilkannya telah dapat diterima oleh keluarga orang Islam. Hal ini sangat menggalakkan dan menimbulkan keyakinan Haji Hong.

Beliau semakin bersung-sungguh mempromosikan pinggan mangkuk tembikar Muslim itu. Haji Hong menyewa sebuah lori untuk mengangkut pinggan mangkuk tembikar Muslim itu ke Beijing untuk menyertai pameran dan penjualan. Semua barang-barang tembikar beliau habis dijual dalam masa tiga hari sahaja.

Sanjungan demi sanjungan yang diterimanya namun langkahnya tidak berhenti di situ sahaja untuk terus mengembangkan perusahaannya.

Beliau sendiri mereka bentuk semua produk dan mengenakan piawaian yang tinggi terhadap semua hasil tembikarnya.

Untuk sampai ke tahap yang lebih tinggi, beliau bersungguh-sungguh mendalami keilmuan dalam bidang keagamaan dan tembikar untuk mendapat lebih banyak inspirasi.

CRI/-

Klasifikasi Manusia di Bulan Ramadhan

14 Ramadhan 1431 H
Oleh: Nur Ihsan

PERTAMA

Kelompok yang menunggu kedatangan bulan ini dengan penuh kesabaran. Ia bertambah gembira dengan kedatangannya,hingga ia pun menyingsingkan lengan dan bersungguh-sungguh mengerjakan segala macam bentuk ibadah seperti; puasa, shalat, sedekah, dan lain sebagainya. Ini merupakan kelompok yang terbaik.Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menuturkan,

“’Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah orang paling berderma. Namun, beliau lebih berderma lagi pada bulan Ramadhan, ketika beliau selalu ditemui Jibril.Setiap malam pada bulan Ramadhan, Jibril menemui beliau hingga akhir bulan.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam membacakan Al-Quran kepadanya. Bila beliau bertemu Jibril,beliau lebih berderma daripada angin yang bertiup.” 1

KEDUA

Kelompok yang sejak bulan Ramadhan datang sampai berlalu, keadaan mereka tetap saja seperti sebelum Ramadhan. Mereka tidak terpengaruh oleh bulan puasa itu serta tidak bertambah senang atau bersegera dalam hal kebaikan.

Kelompok ini adalah orang-orang yang menyia-nyiakan keuntungan besar yang nilainya tidak bisa diukur dengan apa pun. Sebab, seorang muslim akan bertambah semangatnya pada waktu-waktu yang banyak terdapat kebaikan dan pahala di dalamnya.

KETIGA

Kelompok yang tidak mengenal Allah, kecuali pada bulan Ramadhan saja.Bila bulan Ramadhan datang Anda dapat melihat mereka ikut rukuk dan sujud dalam shalat. Tetapi, bila Ramadhan berakhir, mereka kembali berbuat maksiat seperti semula.

Mereka adalah kaum yang disebutkan kepada Imam Ahmad dan Al-Fudhail bin Iyadh dan keduanya berkata, “Mereka adalah seburuk-buruk kaum lantaran tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan.”

Karena itu, setiap orang yang termasuk dalam kelompok ini semestinya tahu bahwa ia telah menipu dirinya sendiri dengan perbuatannya tersebut. Setan pun juga memperoleh keuntungan besar darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

”Setan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad: 25)

Sebagai bentuk ajakan dan peringatan untuk kelompok seperti mereka, hendaklah mereka bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat.

Kami menghimbau agar mereka memanfaatkan bulan ini untuk kembali dan tunduk ke pada Allah serta meminta ampun dan meninggalkan perbuatan buruk yang telah lalu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya, Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap dijalan yang benar.” (Thaha 20: 82)

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.”(Al-Furqan : 70)

Bila Allah telah mengetahui ketulusan dan keikhlasan mereka, maka Dia akan memaafkan mereka sebagaimana yang Dia janjikan. Karena, Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.

Namun, bila mereka tetap saja berbuat maksiat, maka kita harus mengingatkan perbuatan mereka, dan menyampaikan bahwa mereka dalam bahaya besar. Bahaya macam apalagi yang lebih besar daripada meremehkan kewajiban, batasan-batasan, perintah, dan larangan-Nya.

KEEMPAT

Kelompok yang hanya perutnya saja yang berpuasa dari segala macam makanan, namun tidak menahan diri dari selain itu. Anda akan melihatnya sebagai orang yang paling tidak berselera terhadap makanan dan minuman.

Akan tetapi, mereka tidak merasa gerah ketika mendengar kemungkaran, ghibah, adu domba, dan penghinaan. Bahkan, inilah kebiasaannya pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya.

Kepada orang-orang seperti ini, perlu kita sampaikan bahwa kemaksiatan pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya itu diharamkan, tetapi lebih diharamkan lagi pada bulan Ramadhan, menurut pendapat sebagian ulama.

Dengan kemaksiatan tersebut berarti mereka telah menodai puasa dan menyia-nyiakan pahala yang banyak.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka tidak ada kebutuhan bagi Allah dalam diri orang yang meninggalkan makanan dan minumannya.” 2

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:

“Puasa itu bukan sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa itu adalah meninggalkan perbuatan sia-sia dan perkataan keji.” 3

KELIMA

Kelompok yang menjadikan siang hari untuk tidur, sedangkan malam harinya untuk begadang dan main-main belaka. Mereka tidak memanfaatkan siangnya untuk berdzikir dan berbuat kebaikan, tidak pula membersihkan malamnya dari hal-hal yang diharamkan.

Kepada orang-orang seperti ini perlu kita sampaikan agar mereka takutlah kepada Allah berkenaan dengan diri mereka. Janganlah menyia-nyiakan kebaikan yang datang kepada mereka.

Mereka telah hidup sejahtera dan makmur. Hendaklah mereka bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha dan dan bergembira dengan berita dari Allah yang menyenangkan.

KEENAM

Kelompok yang tidak mengenal Allah pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan lainnya. Mereka adalah kelompok yang paling buruk dan berbahaya. Anda akan melihat mereka tidak memperhatikan shalat atau puasa.

Mereka meninggalkan kewajiban itu secara sengaja, padahal kondisinya sehat dan segar bugar. Setelah itu mereka mengaku sebagai orang Islam.

Padahal, Islam sangat jauh dari mereka, bagaikan jauhnya Barat dan Timur. Orang-orang Islam pun berlepas diri dari mereka.Kepada orang-orang semacam ini perlu dikatakan,

”Segeralah bertaubat dan kembalilah kepada agama kalian. Lipatlah lembaran hitam hidup kalian. Sesunguhnya, Rabb kalian Maha penyayang kepada siapa saja yang mentaati-Nya, dan sangat keras siksanya kepada orang yang mendurhakai-Nya.”

Demikianlah, klasifikasi manusia secara global berkaitan dengan bulan Ramadhan. Meski mungkin sebagian kelompok masuk pada pada kelompok lainnya, namun ini perlu dijelaskan.

Isu Khutbah : UMNO bina benteng baru

14 Ramadhan 1431H.
Drs. Khalil Idham Lim

Saya sebagai seorang yang bukan berbangsa Melayu sangat terkilan dengan kejadian yang berlaku dalam isu bacaan khutbah di negeri Pulau Pinang yang sedang hangat dibicarakan sekarang ini. Terkilannya saya kerana pada anggapan saya UMNO telah cuba membina benteng baru untuk mengesahkan bahawa Islam itu hanya untuk orang Melayu sahaja dan dilarang sama sekali untuk bangsa lain khususnya dalam hal mendoakan kesejahteraan kepada bangsa lain.

Kesejahteraan yang saya maksudkan ialah mendoakan bangsa lain di Malaysia supaya mereka mendapat taufik dan hidayah dari Allah, kerana Allah lah yang berhak dalam memberikannya kepada hamba-hambanya yang dia kasihi.

Persoalannya apakah masaalahnya sehingga UMNO tersangat takut dengan doa kepada non muslim. Malah bagi saya membesarkan perkara yang bukan wajib didalam doa itu adalah perkara yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan politik sempit UMNO untuk menarik sokongan dan kononnya dia lah pembela Raja melayu dan melayu. Sedangkan kenapakah UMNO sepi membisu bila Rosmah mendapawa dia wanita pertama dengan membelaki Raja permaisuri Agong yang sebenarnya layak dengan gelaran itu. Ini adalah satu contoh dari banyak lagi tingakhlaku dan ucapan pemimpin UMNO yang menghina Raja Melayu dan melayu.

Namun kejadian di Pulau Pinang yang gencar dan sedang diperbesarkan oleh UMNO yang diketui oleh Pengerusi UMNO Pulau Pinang, Zahid Hamidi memperlihatkan usaha UMNO untuk menyempitkan Islam untuk orang melayu dan dilihat bahawa UMNO cuba membina imejnya dengan cuba menjuarai isu tersebut dengan andaian Melayu akan kembali menyokong UMNO.

Selain itu rasa kesal yang amat sangat apabila Mufti yang menghalalkan rampasan kuasa di Perak dengan cepat mengatakan bahawa apa yang dilakukan oleh khatib yang membaca doa adalah haram. Tanpa usul periksa dan mendapat maklumat yang jelas terlebih dahulu, Harussani telah melakukan kesilapan yang besar dan menyeretnya kepada perhatian umum bahawa cakapnya sudah tidak boleh dipakai sekarang ini.

Sebagai seorang yang bergelar mufti, Harussani sepatutnya perlu menjelaskan doa yang bagaimana yang diharamkan, dan doa yang bagaimana yang di halalkan, atau paling kurang sinonim dengan naman harussani iaitu harus.

Insiden yang berlaku di Pulau Pinang adalah dalam bulan Ramadhan yang penuh keberkatan ini. Dalam keadaan pandangan bangsa lain yang telah berubah kepada Islam sejak tsunami politik 2008 yang melihat dan menyakinkan keterbukaan Islam sehingga mereka memberikan kepercayaan kepada Pakatan Rakyat untuk mentadbir Pulau Pinang dan beberapa negeri lain. Kaum Cina di pulau Pinang memberikan sokongan kepada Parti PAS dalam keadaan gabungan Pakatan Rakyat terus diperkuatkan dari saat tertubuhnya gagasan itu di Ipoh pada malam 9 mac 2008.

Sejak dari itu saya melihat bangsa lain semakin memahami dan tidak takut lagi untuk mendekati Islam, sedangkan selama ini UMNO lebih 50 tahun tidak menggunakan peluang dalam tempoh yang panjang itu untuk menjelaskan Islam kepada pemimpin bukan melayu dalam komponen BN.

Yang kedengaran cuma kata-kata celupar dari pimpinan BN, tidak terkecuali dari bangsa Cina atau India, termasuklah pemimpin UMNO sendiri yang mengeluarkan kenyataan yang terkadang menhina Islam dan hukum hakamnya.

Kemelut yang berlaku di Pulau pinnag saya yakini tidak akan melemahkan Pakatan Rakyat tetapi akan memperkuatkan lagi gabungan politik yang menjadi harapan masa depan malaysia yang kita sayangi.

Kalau isu dapat ditasngani oleh Pakatan Rakyat dengan baik saya yakin kaum bukan Melayu akan melihat bahawa Islam tidak sesempit yang ditohmah oleh UMNO selama ini.

Apalagi saya kira UMNO sudah kehabisan modal untuk melemahkan Pakatan Rakyat, isu perkauman yang satu persatu diperbesarkan nampaknya tidak menjadi.

Oleh itu saya menasihati diri saya dan semua rakan dalam PR supaya sangat berhati-hati dalam tindakan dan ucapan agar terelak dari UMNO dan BN yang sedang mencari helah untuk memburukkan Pakatan Rakyat.

RAJA SESUMPAH BAWA BUKTI DAN SAKSI DULU, JANGAN SIBUK MAHU BERSUMPAH SAJA

14 Ramadhan 1431 H
Oleh: WFAUZDIN NS

SAYA merasa gembira apabila raja sesumpah Ezam bersedia untuk hadir ke Mahkamah Syariah bagi menghadapi kes Qazaf yang difailkan oleh AMK. Kes Qazaf tersebut adalah berkaitan dengan tuduhan raja sesumpah terhadap DS Anwar yang mana melibatkan juga DS Wan Azizah.

Cuma, usah raja sesumpah sibuk untuk menunjukkan kemahirannya untuk bersumpah di dalam Mahkamah Syariah nanti. Raja sesumpah perlu membawa hujah, fakta, bukti dan saksi untuk menguatkan tuduhannya, bukan hanya bergantung kepada sumpah-sumpah yang lazim beliau lakukan dari dulu, kini dan selamanya.

Andainya beratus kali beliau bersumpah sekali pun, kita sudah kenal siapa mamat Ezam ini.

Beliau sanggup berbuat apa sahaja asalkan DS Anwar diaibkan dan Najib diangkat. Mengapa tiada cabaran dari raja sesumpah untuk Saiful agar Saiful juga bersumpah menafikan hubungan intimnya dengan wanita itu?

Mengapa raja sesumpah juga tidak mencabar rakannya Zahid Md Arip yang mengaitkan Ghani Harun tentang hubungan bersama isteri raja sesumpah sewaktu raja sesumpah di dalam penjara.

PAS: Jangan naikkan tarif air, cukai tanah

14 Ramadhan 1431 H

Cadangan supaya semua kerajaan negeri menaikkan tarif air dan cukai tanah bagi meningkatkan hasil pendapatan dianggap sesuatu keputusan yang dibuat oleh mereka yang tidak memahami derita rakyat bawahan.

Ketua penerangan PAS pusat, Idris Ahmad, cadangan itu sesuatu yang tidak wajar dikemukakan ketika rakyat dihimpit dengan kenaikan barang keperluan harian.

“Pelik, perdana menteri yang sering melaungkan slogan rakyat didahulukan tiba-tiba itulah cadangan yang beliau kemukakan dalam mesyuarat kewangan negara yang dipengerusikan oleh beliau sendiri,” kata Idris dalam satu kenyataan akhbar hari ini.

“Sepatutnya beliau sebagai perdana menteri dengan gaji dan elaun yang sudah melimpah ruah, kena memikirkan bagaimana untuk meringankan bebenan rakyat di negara ini.

“Sebaliknya otak yang ada kepada beliau mengambil jalan pintas iaitu dengan menaikkan cukai, hapuskan subsidi, GST, saman ekor, menaikan harga minyak.”
'Jangan bebankan rakyat'

Menurut Idris, persoalan pokok dalam menyelesaikan masalah kelembapan ekonomi yang berpunca daripada rasuah, ketirisan ialah pemimpin negara sepatutnya mencari jalan supaya khazanah negara dapat dinikmati semua rakyat.

Katanya, sebagai contoh, Pakatan Rakyat di Selangor yang dipimpin oleh Tan Sri Khalid Ibrahim bertegas tidak akan menaikkan tarif air kerana tidak mahu membebankan rakyat.

“Malahan beliau bersedia ke mahkamah semata-mata untuk kepentingan rakyat dan memastikan kekayaan Selangor dapat dinikmati oleh semua rakyat di Selangor. Sekarang rakyat Selangor dapat menikmati air percuma 20 meter padu.

“Kerajaan Selangor dibelasah oleh pimpinan Umno kerana memberi air percuma kepada rakyat.

Mereka menuduh ini satu tindakan yang membazir wang negeri. Inilah otak pemimpin Umno daripada atas hingga ke bawah, fikiran mereka sama, iaitu fikir macam mana hendak kaut hak rakyat, bukan hendak bagi hak rakyat,” katanya.

Tambahnya lagi, tindakan kerajaan Selangor menolak cadangan Projek Penyaluran Air Mentah Pahang-Selangor yang bernilai RM8 bilion adalah sesuatu yang bijak.
Jimat RM6 bilion

“Sebaliknya kerajaan Selangor akan meneroka sendiri sumber air denagan kos RM2 bilion sahaja, dapat jimat wang rakyat sebanyak RM6 bilion,” katanya.

Pada 20 Ogos lalu, Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak berkata kerajaan pusat pada prinsipnya bersetuju supaya cadangan kenaikan tarif air dan cukai tanah di semua negeri diseragamkan pada masa depan.

Bagaimanapun, katanya, perkara itu tertakluk kepada persetujuan negeri-negeri tanpa mengira fahaman politik mengenai kedua-dua cadangan berkenaan.

"Dalam soal hasil tanah dan juga daripada segi kos bekalan air, kita akan cuba mendapatkan persefahaman dalam hal ini.

"Dalam erti kata lain, kalau ada cadangan hendak naikkan harga air atau cukai tanah, kita sedang cuba untuk mendapatkan pendirian yang seragam atau bersama di antara semua kerajaan negeri," kata Najib.

Malaysiakini/-

DAP: K'jaan hilang RM3.6 bilion dari AP setiap tahun

14 Ramadhan 1431 H
Oleh: Humayun Kabir

DAP hari ini mencadangkan kerajaan persekutuan supaya memansuhkan permit import (AP) kereta sekarang ini daripada menunggu sehingga 2015 - yang sekaligus dapat memastikan negara mendapat pendapatan RM3.6 bilion setiap tahun.

Penolong bendahari DAP, Nga Kor Ming dalam satu kenyataan berkata wang RM3.6 bilion hilang setiap tahun itu boleh digunakan bagi membina 90,000 unit rumah kos rendah dan menyelesaikan masalah setinggan di Malaysia.

Menurut Nga, kerajaan mengeluarkan antara 100,000 hingga 120,000 AP setiap tahun, dengan setiap satunya bernilai RM40,000, berjumlah RM4.8 bilion.

Bagaimanapun, kerajaan hanya mengenakan bayaran RM10,000 bagi setiap AP itu dan mampu mengutip RM1.2 bilion bagi 120,000 AP yang dikeluarkan. Justeru, setiap tahun pendapatan RM3.6 bilion hilang.

Menurut Nga, oleh kerana kerajaan amat merlukan dana, menghapuskan AP akan bermakna lebih banyak wang untuk keperluan asas rakyat Malaysia yang selari dengan slogan Najib, 'rakyat didahulukan, pencapaian diutamakan.'

Katanya, polisi kereta BN itu perlu dikaji semula kerana ia didakwa memiskin Malaysia dan rakyat, dakwanya dipaksa memberi subsidi kepada Proton selama 26 tahun sejak kereta nasional itu dilancarkan pada 1984.

Nga berkata dasar perlindungan yang memihak Proton menyaksikan ramai rakyat Malaysia terpaksa membeli Proton kerana cukai yang tinggi dikenakan ke atas kereta yang diimport.

Nga, juga mendakwa kerajaan telah membelanjakan RM500 juta untuk menubuhkan syarikat itu tetapi 97 peratus daripada kereta yang dihasilkan adalah untuk pasaran tempatan.

Justeru, dengan hanya tiga peratus, buatan keretanya diimport, Proton, kata Nga tidak banyak menyumbang kepada pendapatan negara.

Malaysiakini/-

Bapa kanak-kanak mangsa letupan di KT serah diri

14 Ramadhan 1431 H

Bapa kepada kanak-kanak yang terkorban akibat kejadian letupan di sebuah rumah yang dipercayai dijadikan stor simpanan mercun dan bunga api di Kampung Makam Lama, Cabang Tiga di Kuala Terengganu semalam, menyerah diri kepada polis hari ini.

Ketua Polis Daerah Kuala Terengganu ACP Zamri Samsuddin berkata Ayub Abd Rahman, 28, menyerah diri di tempat kejadian kira-kira pukul 12.55 tengahari.

"Dia menyerah diri atas nasihat polis dan juga Jawatankuasa Keselamatan dan Kemajuan Kampung," katanya kepada pemberita di Hospital Sultanah Nur Zahirah (HSNZ) di Kuala Terengganu selepas melawat dua lelaki yang parah akibat kejadian itu.

Zamri berkata bagaimanapun, polis memberi peluang kepada lelaki tersebut untuk menguruskan pengkebumian jenazah anaknya yang masih belum dituntut di hospital itu.

Sejam setengah sebelum itu, Ketua Polis Terengganu Datuk Mohd Shukri Dahlan membuat sidang media khas bagi memaklumkan tentang usaha polis untuk mengesan bapa Khairul Arif Ayob, 6, yang maut dalam kejadian semalam.

Katanya, ia bagi membantu siasatan polis selain urusan menuntut jenazah anaknya di HSNZ di Kuala Terengganu.

"Sebaik kejadian itu berlaku semalam, suspek dan isterinya Kamariah Sufian, 25, telah menghilangkan diri. Polis telah pergi ke rumahnya, namun gagal menemuinya," kata beliau.

Mohd Shukri berkata bapa kanak-kanak itu sebelum ini pernah ditahan mengikut Seksyen 8, Akta Bahan Letupan 1957 pada tahun lepas atas kesalahan penjualan mercun.

Mengulas mengenai kejadian semalam, Mohd Shukri berkata siasatan awal mendapati ledakan kuat sehingga merosakkan beberapa rumah di kawasan itu berpunca daripada letupan himpunan mercun yang banyak.

Malah katanya, selepas kejadian itu polis menemui 15 kotak lagi mercun pelbagai jenis di bahagian lain di rumah berkenaan.

"Daripada jumlah itu hanya dua jenis mercun yang dibenarkan iaitu jenis 'happy boom' dan jenis 'pop-pop'," katanya.

Dalam kejadian yang berlaku di sebuah rumah tinggal di Kampung Makam Lama, Cabang Tiga kira-kira 12.30 tengahari semalam, kanak-kanak malang itu dilapor tercampak ke atas pokok setinggi 15 meter dan mengalami kecederaan parah di bahagian kepala.

Kejadian turut mengakibatkan dua lelaki yang dikenal pasti sebagai Mohd Asrizan Muda, 22, dan Mazlan Abdullah, 29, cedera parah. Kedua-dua mereka kini dirawat di HNSZ.

Malaysiakini/-

Kedutaan M'sia dilempar najis, bendera dipijak

14 Ramadhan 1431 H

Kedutaan Besar Malaysia ke Indonesia di Jakarta telah dilempar najis manusia oleh penunjuk perasaan daripada kumpulan Benteng Demokrasi Rakyat (BENDERA) pada satu demonstrasi petang ini.

Seorang daripada 37 penunjuk perasaan itu telah melemparkan najis itu ke dalam perkarangan kedutaan itu melepasi pintu pagar hadapan dan di atas kepala barisan anggota polis Indonesia yang sedang mengawal ketat di hadapan bangunan itu.

Mereka turut melepaskan najis itu ke atas bendera Malaysia yang dipijak-pijak di atas jalan tempat mereka berkumpul di hadapan kedutaan itu.

Kumpulan itu sebelumnya telah membawa lima bungkusan najis itu, ada yang diletakkan dalam kertas bungkusan makanan, dalam plastik dan dalam kotak polisterin dan dinyatakan sebagai "hadiah" untuk Duta Besar Malaysia ke Indonesia kerana Malaysia selama ini telah beberapa kali memberi "najis" yang lebih kotor kepada Indonesia.

Dengan tiba-tiba seorang daripada mereka melempar bungkusan kertas berisi najis itu ke dalam pagar kedutaan itu dan pada masa yang sama, najis turut dilepaskan ke atas bendera Malaysia yang mereka sedang pijak itu.

Demonstrasi itu diadakan bagi menandakan kemarahan mereka terhadap Malaysia yang mereka dakwa telah merendahkan maruah Indonesia dalam insiden di perairan Bintan pada 13 Ogos lalu apabila polis Malaysia menahan tiga pegawai penguatkuasa Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Ia juga untuk menyatakan kekecewaan rakyat terhadap kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dikatakan sangat lemah menghadapi Malaysia.

Berikutan kejadian lempar najis itu polis Indonesia menangkap tiga orang pelaku berkenaan.

Demonstrasi itu berlangsung selama sejam.

Seorang wakil kumpulan itu kemudian memberitahu wartawan yang meliputi peristiwa itu bahawa mereka telah memberi kata dua kepada polis Indonesia iaitu lepaskan rakan-rakan mereka itu daripada tahanan atau mereka akan melakukan operasi usir rakyat Malaysia petang ini.

Operasi yang dinamakan "Sweeping Rakyat Malaysia" itu dirancang akan dilakukan di hadapan bangunan kumpulan itu di Jalan Diponegoro, Menteng, di Jakarta.

Polis Indonesia telah menugaskan ramai anggota untuk mengawal ketat di hadapan bangunan kedutaan Malaysia, setelah mendapat maklumat bahawa demonstrasi berkenaan akan disertai antara 300 dan 500 penunjuk perasaan.

Dalam insiden di perairan Malaysia-Indonesia itu, bahagian penguatkuasa Kementerian Kelautan dan Perikanan menahan tujuh nelayan Malaysia manakala Polis Marin Malaysia pula menahan tiga pegawai pengkuatkuasa kementerian dari Indonesia itu, masing-masing kerana didakwa menceroboh wilayah masing-masing.

Kedua-dua negara kemudian membebaskan tahanan-tahanan itu pada 17 Ogos lalu.

Malaysiakini/-

Perhimpunan DIA: Polis nafi guna kekerasan

14 Ramadhan 1431 H

Polis menafikan telah menggunakan kekerasan terhadap anggota sebuah pertubuhan yang berhimpun di depan Balai Polis Sitiawan di Lumut, Ahad lalu.

Ketua Polis Perak Datuk Zulkifli Abdullah berkata dakwaan bahawa polis telah menggunakan kekerasan serta mengeluarkan perkataan berunsur perkauman ketika menghalang kumpulan itu daripada merempuh masuk ke balai berkenaan, adalah tidak berasas dan bertujuan menjatuhkan imej pasukan beruniform itu.

"Saya menafikan sekeras-kerasnya dakwaan kumpulan berkenaan yang mendakwa pihak polis menggunakan kekerasan, termasuk mengeluarkan kata-kata berunsur perkauman semasa berdepan dengan mereka," katanya kepada pemberita selepas Majlis Dailog Bersama Pengurusan Sime Darby Plantation di Lumut, semalam.

Zulkfili berkata sebagai sebuah pasukan profesional, anggota polis dilatih menghadapi sebarang kemungkinan, termasuk ketika berdepan dengan tekanan.

Beliau berkata demikian semasa diminta mengulas insiden perarakan dan perhimpunan sekumpulan anggota Persatuan India Dindings (DIA) di balai polis berkenaan untuk membuat laporan berhubung masalah dalaman persatuan itu.

Dalam kejadian itu, polis telah menahan dua anggota kumpulan tersebut iaitu ahli parlimen Ipoh Barat M Kulasegaran dan bekas setiausaha politiknya, P Sukumaran.

Zulkfili berkata mereka yang membuat dakwaan itu boleh mengemukakan bukti dan polis bersedia menyiasat kes tersebut serta mengenakan tindakan terhadap anggotanya yang didapati melakukan kekerasan.

"Dalam kejadian itu, polis terpaksa menggunakan kekerasan yang minimum semasa menahan dua orang kumpulan tersebut bagi mengawal keadaan.

tidak ada sebarang tindakan kekerasan, atau kata-kata kesat berunsur perkauman digunakan.

"Ini satu tuduhan yang serius dan boleh membangkitkan kemarahan di kalangan orang ramai, khasnya kaum India," katanya.

Beliau berkata berdasarkan laporan yang diterima, anggota polis telah mengambil tindakan yang tepat apabila menghalang kumpulan tersebut daripada menyerbu masuk ke kawasan balai itu kerana sebelum itu, hanya beberapa wakil diminta masuk membuat laporan.

Malaysiakini/-

CAP gesa henti segera jual minyak sapi QBB

14 Ramadhan 1431 H

KUALA LUMPUR, 23 Ogos: Persatuan Pengguna Pulau Pinang (CAP) menggesa Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Kepenggunaan supaya menarik balik dengan segera penjualan minyak sapi QBB yang dijual di Malaysia.

Presidennya, SM Mohamed Idris (gambar) berkata, ini berikutan penarikan balik status halal minyak sapi yang telah ditarik balik oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim) berdasarkan bahawa ia mengandungi elemen yang meragukan.

Katanya, CAP telah berhubung dengan Jakim berhubung kesahihan status halal minyak sapi sejak Julai tahun ini.

“Dalam jawapannya kepada CAP yang bertarikh 20 Ogos 2010, pihak Jakim telah memaklumkan kepada CAP bahawa mereka sedang menarik balik status halal minyak sapi itu sehingga mereka yakin dengan status halal produk itu,” ujarnya dalam kenyataan kepada Harakahdaily, petang ini.

Menurutnya lagi, Jakim dan Jabatan Kimia telah menguji minyak sapi itu dan mendapati ia mengandungi elemen yang meragukan, dan oleh sebab itu tidak boleh dimakan oleh umat Islam dan mereka yang mengamalkan memakan sayuran sahaja.

Sehubungan itu, ujarnya CAP menggesa rakyat Malaysia supaya menghentikan segera pengambilan minyak sapi sehingga kandungannya disahkan halal oleh Jakim.

“Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Kepenggunaan mestilah dengan segera mengambil tindakan untuk menarik balik sepenuhnya produk itu dari pasaran kerana ia sesuatu yang serius dan memerlukan tindakan segera,” tegasnya.

Harakahdaily/-

Yusof Nor patut terima kasih bukan marah

14 Ramadhan 1431 H

KUALA LUMPUR, 23 Ogos: Pengerusi Felda, Tan Sri Yusof Nor patut berterima kasih kepada para pengkritik Felda kerana dengan cara itu dia boleh memperbetulkan segala kepincangan dalam perbadanan itu.

Demikian kata Setiausaha Agung PAS, Datuk Mustafa Ali dalam twitternya hari ini. Mesej ini adalah yang ketiga dihantar Mustafa melalui twitternya itu @dato_mustafaali.

Mustafa menyertai komuniti paling popular di dunia itu hari ini. Mesej tentang Felda adalah yang ketiga selepas mempertikaikan Umno dan BN yang terlalu banyak memainkan isu perkauman sejak kebelakangan ini dalam twit keduanya.

Mustafa mempertikaikan apakah motif sebenar para pemimpin Umno dan BN ketika memainkan isu perkauman.

Dalam isu Felda, Mustafa berkata, Yusof tidak patut marah-marah terhadap pengkritik dan pihak yang mahu memberikan pandangan tentang Felda.

"Jangan ambil mudah Tan Sri," kata Mustafa dalam twitternya.

Semalam, media melaporkan Yusof Nor marah-marah terhadap pihak-pihak yang memberikan pandangan dan masuk ke kawasan Felda.

Beliau menyifatkan tindakan ini sebagai satu gangguan yang tidak diingini oleh warga komuniti itu.

Katanya, pihak terbabit sebenarnya mahu melihat peneroka dan pentadbiran dalam organisasi itu berpecah-belah untuk memudahkan mereka menyusup masuk.

"Mereka serang dan fitnah Felda kerana nampak ia semakin berkembang, sebab itu mereka nak masuk dalam Felda," katanya kepada pemberita selepas menyampaikan saguhati kepada 19 Pengerusi Masjid dalam Rancangan Felda Terengganu Sabtu lepas.

Harakahdaily/-

Derita seorang pemilik kereta lama

14 Ramadhan 1431 H
Oleh: Anak Melaka

CUKAI jalan (road tax) kereta Proton Iswara saya yang sudah berusia 12 tahun mati baru-baru ini. Untuk memperbaharui cukai jalan, tentulah saya perlu memperbaharui insuransnya. Seperti tahun lalu, saya ke pejabat pos bagi membereskan urusan itu.

Selepas tiba giliran, saya menyerahkan sijil pendaftaran kenderaan dan salinan insurans tahun sebelumnya. Geli hati juga saya melihat kerani pos terkial-kial mengira jumlah wang insurans yang katanya telah meningkat mendadak tahun ini. Kira punya kira akhirnya saya pula hampir tersedak apabila dia memberitahu saya supaya membayar RM460.

Mana tidak terkejut besar saya mendengar jumlah itu. Baru tahun lalu saya hanya membayar RM91 untuk insurans, tahun ini kena bayar lima kali ganda.

Disebabkan saya membawa sejumlah wang yang hanya cukup-cukup seperti tahun lalu, saya tidak terus membayarnya sebaliknya meminta kerani itu menyemaknya semula.

Kerani itu akur tetapi kemudian berkata, “memang betul, pak aji kena bayar RM460.00. Tapi kalau pak aji tak mahu, pak aji boleh ke syarikat insurans di seberang jalan sana, mungkin pak aji boleh dapatkan yang lebih murah di sana!”

Apa lagi, saya pun bergegas ke pejabat syarikat insurans itu. Kira punya kira akhirnya, kerani si gadis manis itu memberitahu saya jumlahnya RM405.06. Hai, tak jauh beza dengan apa ditawarkan di pejabat pos tadi.

Apabila si kerani bertanya, jadi atau tidak jadi, terpaksalah saya mengaku tidak membawa duit sebanyak itu tetapi memintanya menyiapkan segera insurans berkenaan kerana saya akan ke mesin juruwang automatik.

Apabila sijil insurans siap, saya kembali ke pejabat pos untuk mendapatkan ‘road tax’.

Kadar cukai jalan bagi kenderaan setaraf Proton Iswara adalah RM70 setahun sedangkan beberapa tahun lalu adalah sebanyak RM179 setahun. Pejabat pos pula mengenakan caj RM2 bagi perkhidmatannya.

Sekalipun kadar cukai jalan sudah dikurangkan lebih daripada separuh, hakikatnya harga insurans melambung tinggi menyebabkan pemilik kereta lama seperti saya menderita juga untuk membayar ‘road tax’.

Jika pemilik kereta lama yang berusia 12 tahun seperti saya merana ketika hendak membayar ‘road tax’, tidak dapat saya bayangkan derita pemilik kenderaan berusia lebih 20 tahun yang saya dengar terpaksa melalui karenah lebih teruk.

Dengar khabar, apabila mahu memperbaharui ‘road tax’, pemilik kenderaan berkenaan terpaksa melalui prosedur yang merumitkan melalui Malaysian Motor Insurance Pool (MMIP) dan Uni Asia untuk memperbaharui insurans kenderaan, selain peningkatan kadar bayaran yang didakwa sehingga 200 peratus berbanding sebelumnya.

Sebagai menyatakan rasa prihatin kepada pemilik kenderaan lama ini, PAS melalui Naib Presidennya, Salahuddin Ayub melancarkan satu gerakan rakyat bagi membela nasib mereka yang dinamakan Gerakan Bela Rakyat (Bela).

Salahuddin berkata pihaknya akan mengadakan persidangan meja bulat seterusnya secara berkumpulan dan hasil perbincangan akan dibawa ke persidangan Parlimen untuk mendapat pertimbangan kerajaan.

Memang benar, prosedur baru ini bukan saja menyusahkan rakyat kebanyakan terutama golongan bawahan tetapi menjejaskan kedudukan kewangan mereka dengan teruk sekali.

Jika saya yang terpaksa membayar insurans yang kenaikannya sebanyak 500 peratus begitu tertekan, apa agak nasib Ramli, si tukang gunting yang memiliki sebuah Opel Kadett model 1978 dan Din, bekas askar yang memiliki Ford Escort 1974? Harap-harap mereka berjaya mendapatkan ‘road tax’ walaupun terpaksa melalui onak dan duri sedangkan hari-hari telinga mereka disumbat slogan dari corong radio dan televisyen, ‘1Malaysia, Rakyat didahulukan, Pencapaian diutamakan’.

Selain soal insurans, satu lagi hal yang membebankan pengguna kenderaan adalah saman ekor. Seorang sahabat memberitahu dia mempunyai tiga saman ekor, menyebabkan usahanya untuk memperbaharui cukai jalan tertangguh.

Hari pertama dia ke ibu pejabat polis Jalan Bandar, pembayaran tidak dapat dibuat kerana komputer ‘offline’ manakala hari kedua orang terlalu ramai. Maka pada hari ketiga barulah dia dapat menyelesaikan masalahnya itu.

“Masalahnya sekarang,” katanya, “polis tidak melayan sebarang rayuan, setiap saman kena RM300, jadi terbanglah duit saya sebanyak RM900. Kemudian bayar insurans dan ‘road tax’ yang jumlahnya ribuan ringgit.

Saya benar-benar pokai sekarang ini, tapi apa nak buat, tidak bayar saman tidak boleh buat ‘road tax’. Tak ada ‘road tax’, kereta tak boleh bergerak, lagi payah saya dibuatnya.”

Selepas dibantah oleh orang ramai, barulah kerajaan bertindak menangguhkan saman ekor itu yang menurut sesetengah pakar perundangan tidak menepati kehendak perundangan, misalnya seseorang itu tidak bersalah sehingga dia dibuktikan bersalah oleh mahkmah termasuklah ketika berada di jalan raya.

Harakahdaily/-