29 Ogos 2010

Ziarah Ramadhan PAS Lenggong;

Haji Razman sampaikan bantuan kepada salah seorang ibu tunggal

19 Ramadhan 1431H.
Oleh Mohd Syamil Azhar

LENGGONG: Lebih 70 penduduk Kuak dekat sini berbuka puasa bersama pimpinan PAS kawasan sempena program Ziarah Ramadhan (ZR) anjuran Lajnah Tarbiyah dan Pengkaderan.

Ketua lajnah, Ustaz Mohd Hanafiah Idris, berkata Kuak (PAS Kampung Kelantan) adalah salah satu daripada 14 cawangan yang menjadi tuan rumah dan antara yang paling ramai hadir setakat ini.

Katanya, cawangan-cawangan lain ialah Kampung Changkat Berangan, Chepor, Bukit Sapi, Cawangan Kampung Lenggong, Pekan Lenggong, Felda Papulut, Felda Lawin Utara, Tawai, Kenayat, Air Panas, Tanjong Rambai, Ulu Kenderong dan Kampung Padang.

"Program ini dilaksanakan bersama dengan Lajnah Pemerkasaan Parti, Lajnah Penerangan, Lajnah Kebajikan dan Kemasyarakatan dan PAS kawasan sendiri.

"Lebih RM8000 diperuntukkan, iaitu untuk bantuan kepada fakir miskin, anak yatim dan golongan daif selain untuk jamuan berbuka," katanya.

Hadir sama Yang DiPertua PAS Lenggong, Haji Razman Zakaria, Timbalannya, Ustaz Husairi Ariffin, Ketua-Ketua lajnah dan ketua PAS Cawangan Kampung Kelantan, Muhammad Zakaria Abdullah.

Ustaz Mohd Hanafiah berkata, program bermula dengan taklimat oleh beliau sendiri, Husairi dan Razman sendiri, penyampaian bantuan, tahlil, berbuka puasa, solat Maghrib, Isyak, Tarawih dan tazkirah.

"Setakat ini Cawangan Kampung Kelantan antara yang paling ramai hadir, termasuk pemuda dan muslimat dan diharap cawangan-cawangan lain juga lebih ramai lagi," katanya.

Wanita di Bawah Naungan Islam : Tuduhan zina terhadap perempuan yang suci

18 Ramadhan 1431H.
oleh : Said Abdul Aziz al-Jandul

Tuduhan zina terhadap perempuan suci artinya melontarkan tuduhan terhadap perempuan-perempuan muslimah yang selalu menjaga kehormatannya, mencemarkan nama baik mereka tanpa bukti yang sah, karena tuduhan tersebut menimbulkan berbagai pengaruh buruk terhadap individu ataupun masyarakat dan membuat mereka ragu terhadap perempuan-perempuan terhormat serta menimbulkan rasa sakit yang merobek-robek hati sebagai hukuman terhadap penuduh yang hampir sama dengan hukuman zina. Hal itu secara tegas dinyatakan di dalam firman Allah Subhaanahu Wata'ala:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (4) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nur: 4-5).

Dari dua ayat di atas tampak sekali beratnya hukuman tuduhan perbuatan zina dan apabila tuduhan itu tidak terbukti, maka penuduh dapat hukuman berikut ini:

Hukuman fisik, yaitu dera delapan puluh kali dera.

Hukuman religi, yaitu dicap sebagai orang yang sangat kurang imannya dan dicap sebagai orang fasik sebagai imbalan atas kedustaan dan kebohongannya.

Hukuman moral, yaitu kewibawaannnya di tengah-tengah masyarakat dicabut dan kesaksiannya ditolak, hingga ia benar-benar telah bertobat kepada Allah dan merehabilitasi nama baik perempuan-perempuan yang telah ia tuduh. Jika ia telah melakukan itu semua, maka hukuman yang ketiga dicabut.

Tuduhan itu tidak benar menurut ukuran Syari’at Islam kecuali bila ada empat orang saksi yang semuanya memberikan kesaksiaan yang pasti bahwasanya mereka benar-benar melihat hubungan seks yang dilakukan oleh tertuduh. Jika kesaksian seperti itu terpenuhi, (maka tuduhan berarti benar), jika tidak, maka hukuman dilakukan terhadap penuduh demi terpeliharanya kehormatan dan nama baik dari pelecehan dan pencemaran serta mencegah adanya rasa ragu dan keprihatinan dari masyarakat.

DOSA-DOSA YANG DIANGGAP BIASA : GHIBAH

18 Ramadhan 1431H.
oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid

43. GHIBAH (MENGGUNJING)

Dalam banyak pertemuan di majlis, sering kali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing umat Islam. Padahal Allah Ta’ala melarang hal tersebut dan menyeru agar segenap hamba menjauhinya. Allah menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikan. Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al Hujurat:12)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan makna ghibah (menggunjing) dalam sabdanya,

أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ.

“Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya.” Ditanyakan, “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kamu katakan itu terdapat pada saudaramu, maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika apa (yang digunjingkan) itu tidak terdapat padanya, maka engkau telah berdusta atasnya.”( Hadits riwayat Muslim, 4/2001.)

Jadi, ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan). Baik mengenai jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranya pun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, meniru tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang digunjingkan dengan maksud mengolok-olok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

الرِّبَا اِثْنَانِ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَدْنَاهَا مِثْلُ إِتْيَانِ الرَّجُلِ أُمَّهُ، وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا اِسْتِطَالَةُ الرَّجُلِ فِيْ عِرْضِ أَخِيْهِ.

“Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.”( As-Silsilah Ash-Shahihah, 1871.)

Wajib bagi orang yang hadir di dalam majlis yang sedang menggunjingkan orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang digunjingkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya,

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak menghindarkan api Neraka dari wajahnya.”( Hadits riwayat Ahmad, 6/450, Shahihul Jami’, .6238.)

DOSA-DOSA YANG DIANGGAP BIASA : MENDENGARKAN DAN MENIKMATI MUSIK

18 Ramadhan 1431H.
oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid

42. MENDENGARKAN DAN MENIKMATI MUSIK

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bersumpah dengan nama Allah bahwa yang dimaksud firman Allah, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (Luqman: 6) adalah nyanyian.” (Tafsir Ibni Katsir, 6/333.)

Abu Amir dan Abi Malik Al Asy’ari radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِيْ أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّوْنَ الْحِرَّ وَالْحَرِيْرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ.

Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar dan alat-alat musik…..”( Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 10/51.)

Dan dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيَكُوْنَنَّ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ خَسَفٌ وَقَذَفٌ وَمَسْخٌ، وَذَلِكَ إِذَا شَرِبُوا الْخَمْرَ وَاتَّخَذُوا الْقَيْنَاتِ وَضَرَبُوْا بِالْمَعَازِفِ.


“Kelak akan terjadi pada umat ini (tiga hal); (Mereka) ditenggelamkan (ke dalam bumi); dihujani batu; dan diubah bentuk mereka, yaitu jika mereka minum arak, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (membunyikan) musik.”( As-Silsilah Ash Shahihah, 2203, diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Kitab Dzammul Malahi dan At-Tirmidzi, no. 2212.)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang gendang, lalu menyatakan, seruling adalah suara orang bodoh dan tukang maksiat. Para ulama terdahulu seperti Imam Ahmad rahimahullah berdasarkan hadits-hadits shahih yang melarang alat-alat musik secara mutlak, telah menetapkan haramnya alat-alat musik seperti kecapi, seruling, rebab, simbab dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi, alat-alat musik modern yang kita kenal saat ini termasuk ke dalam kategori alat musik yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti piano, biola, harpa, guitar dan sebagainya. Bahkan alat-alat modern tersebut lebih cepat mempengaruhi mabuknya jiwa daripada alat-alat musik zaman dulu yang telah diharamkan dalam beberapa hadits.

Menurut penuturan para ulama, di antaranya Ibnu Qayyim, keterlenaan dan mabuknya jiwa akibat pengaruh nyanyian lebih besar bahayanya daripada akibat minum arak. Kemudian tak diragukan lagi, pelanggaran akan lebih keras dan dosanya akan lebih besar jika alat-alat musik tersebut diiringi dengan nyanyian, baik oleh biduan atau biduanita. Lalu, bahayanya akan lebih bertumpuk jika untaian kata-kata syairnya berkisah tentang cinta, asmara dan kecantikan wanita atau kegagahan pria.( Saat ini bahkan kita kenal dengan istilah dakwah dengan musik. Adakah pencampuradukan antara kebenaran dan kebatilan yang lebih nyata dari ini? (pent.). )

Karena itu tidak mengherankan jika para ulama menyebutkan nyanyian adalah sarana yang menghantarkan pada perbuatan zina, menumbuhkan perasaan nifak di hati. Dan secara umum, nyanyian dan musik adalah tema besar zaman ini yang melahirkan banyak fitnah.

Musibah itu semakin menjadi-jadi, setelah pada saat ini kita saksikan musik menyelusup setiap benda dan ruang. Seperti jam dinding, bel, mainan anak-anak, komputer, pesawat telepon dan sebagainya.

Untuk menghindari berbagai hal di atas, sungguh memerlukan kekuatan hati yang tangguh. Mudah-mudahan Allah menjadi penolong kita semua. Amiiin….

28 Ogos 2010

Nik Aziz Sifatkan Tunjuk Perasaan Anti Malaysia Memalukan

17 Ramadhan 1431H.

KOTA BAHARU: Menteri Besar Kelantan Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat menyifatkan tindakan sekumpulan rakyat Indonesia membakar Jalur Gemilang dan melempar najis manusia ketika berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Isnin lepas sebagai "memalukan".

Mursyidul Am Pas itu berkata sepatutnya sebagai negara berjiran, kedua-dua kerajaan boleh menyelesaikan sebarang perselisihan faham secara kekeluargaan.

"Memang perkara itu memalukan kerana kita berjiran, sebangsa dan seagama, kenapa boleh jadi begitu? Ini memalukan," katanya kepada pemberita selepas menyampaikan kuliah Mingguan Jumaat di Dataran Ilmu, di sini, Jumaat.

Nik Abdul Aziz sebelum itu diwawancara sebuah stesen televisyen Indonesia, TV One.

Beliau yang diminta mengulas insiden Isnin lepas itu juga berpandangan Malaysia dan Indonesia adalah seperti dua beradik yang seharusnya menjadi contoh baik kepada negara lain.

KENYATAAN MEDIA: PAS Seru PBB,UMNO Kembalilah Pada ISLAM Yang Syumul

17 Ramadhan 1431H

السلام عليكم ورحمة الله وبكاته

AL-Quran diturunkan menjadi petunjuk kepada orang yang beriman. Di saat ramai sanggup menghayati dan melaksanakan perintah ALLAH ayat 183 dalam Surah Al-Baqarah dari sudut kewajiban berpuasa, namun kurang pula orang yang sanggup menerima arahan ALLAH pada ayat 178 Surah yang sama; iaitu melaksanakan hukum ALLAH yakni Qisas selaku cabang dari Hudud(Batasan) ALLAH S.W.T.

Kesilapan besar UMNO dan PBB terhadap Islam adalah mereka tidak ada niat atau hasrat untuk melaksanakan syariat Islam secara menyeluruh.

Sekiranya umat Islam dalam UMNO dan PBB benar-benar berjuang Islam sudah lama Islam dapat ditegakkan dibumi Malaysia ini. Mereka tidak layak bercakap pasal perjuangan Islam sedangkan hakikatnya merekalah yang menentang perlaksanaan undang-undang Islam yang sebenarnya. Bila isu hudud hendak dilaksanakan tiada seorang pun pemimpin PBB mahupun UMNO mahu bersama dengan parti Islam menyokong perlaksanaan hukum tersebut. Samada mereka diam atau berkata bahawa hukum hudud tidak sesuai dilaksanakan dalam masyarakat majmuk seperti Malaysia ini.

Sudah jelas lagi bersuluh ,mereka yang sentiasa menentang ISLAM datangnya dari parti yang kononnya mengaku Melayu ISLAM BN ini. Isu Dinar dan Dirham Emas di Kelantan dan pemisahan politik dari agama jelas menunjukkan kegagalan BN,UMNO dan PBB dalam menerima sepenuhnya Al-Quran secara Kaffah(Kesuluruhannya).

Di saat mereka menempelak PAS dan Pakatan Rakyat berpolitik di Masjid dan Surau,PBB dan UMNO boleh pula melaksanakan kerja kerja politik di Masjid dan Surau. Jelas seperti meludah ke langit ;akhirnya mereka terpaksa mengakui hakikat ISLAM tidak pernah memisahkan setiap juzuk kehidupan dengan ISLAM. Baik dari sudut ibadah,jenayah,muamalah malah siasah politik,semuanya hendaklah kembali kepada paksi ISLAM.

PAS memandang serius ugutan dan tekanan yang dilakukan oleh SUPP ,PBB,BN terhadap rakyat, yang membuktikan terdesaknya BN ketika ini. Siapa boleh lupa pada April ; saban hari mereka menempelak aduan peniaga di Pasar Malam Saberkas,dituduhnya PAS menggangu perniagaan penjaja,tapi akhirnya mereka terpaksa jua menyiapkan kemudahan yang dipinta bertahun lamanya oleh peniaga di situ. Itupun setelah desakan dilakukan PAS dan Pakatan Rakyat.

Siapa juga boleh lupa ;laporan mukadepan Utusan Borneo 28 April melibatkan warga emas yang lumpuh diKampung Pengkalan Lutong jelas menjadi satu lagi kelemahan ketara pimpinan PBB yang sekadar mengenyangkan perut mereka dengan projek sedangkan rakyat terus terabai. Apakah setelah 15 tahun Ketua Wanita PBB tersebut tidak tahu isu ini? Kenapa selepas PAS dan rakan Pakatan Rakyat hadir dalam menyantuni insan yang memerlukan bantuan ini ;laporan ditulis dalam blog PAS Miri ,barulah PBB mahu tunjuk muka?

Selain itu tekanan demi tekanan semakin dahsyat dilakukan oleh SUPP,PBB ,BN. Restoran yang menjadi tempat anggota Pakatan Rakyat makan pun ”di serang ” dengan ahli PBB yang mengugut pihak peniaga.

Disepanjang Ramadhan pula,di saat sekonyong konyongnya pihak PBB melaksanakan program di Surau dan Masjid,kenapa di saat PAS mengadakan program ,semua pihak AJK Masjid ditekan bagi menghalang program bersama rakyat oleh PAS dan Pakatan. Sampai hendak mengukur tanah NCR pun di beri amaran rakyat jangan bertemu pihak Pakatan Rakyat. Apa semua ini? Adakah BN semakin terdesak? Jawapannya YA. Tambah pula kepala bapa Rasuah mereka Taib mahu undur diri,sudah pasti kewangan mereka menipis kelak. Sebab itu ,mungkin, SUPP berkira kira mahu keluar BN. Di luar atau di dalam BN,SUPP tetap tidak relevan . Begitu juga BN,BN juga semakin hampir terkubur menjelang PRU 13.

Dari Abu Hurairah radhiAllahu ‘anhu bahawa Rasulullah sallAllahu ‘alahi wasallam bersabda: “Puasa itu adalah perisai, oleh kerana itu, apabila salah seorang di antara kamu sekalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan janganlah bertengkar/berteriak. Apabila ada seseorang yang mencaci-maki atau mengajak berkelahi, maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa””. (HR
Bukhari & Muslim)


’PAS UNTUK SEMUA’
PAS Kawasan Miri
S.K YDP Kawasan , MT PAS Kawasan
Dewan Pemuda PAS Miri
Dewan Muslimat PAS Miri
www.pas-miri.blogspot.com

PERUTUSAN KHAS SEMPENA BADAR KUBRO

17 Ramadhan 1431H.

Saudaraku,

Badar al Kubro bukan kisah semata, sekadar diperagakan mengikut musim-musim untuk mempamirkan bahawa kalian sudah cukup kuat menghayati agama namun itulah kisah yang perlu ditelusuri sejarahnya Badar Al Kubro sebenarnya mengkisahkan segala-galanya disana ada kisah keimanan yang nyata, keperkasaan,keberanian,kepahlawanan,keikhlasan dan erti sebenar setiakawan persaudaraan.

Dan yang terlebih penting dari itu semua,

Disana ada kisah ketaatan mutlak kepada Allah dan Rasul Suruhan maka berbondong-bondonglah turun dari langit tentera yang tidak kelihatan sehingga tertewaslah penuh aib golongan yang menentang huku Allah SWT yang menafikan keagungan Tuhan, Lantas kelompok kecil yang serba kekurangan itu mencatatkan sejarah yang akan terus dirakam sehingga akhir zaman bahawa kemenangan hakiki bukan kerna aparat dan persenjataan sebaliknya kerna keyakinan dan keimanan.

Saudarku,

Hanya Islam sahajalah yang menjamin kesejahteraan,kebebasan,kebenaran dan keadilan Semoga berbahagialah kamu Sayiddina Hamzah dan sekian para syuhadah Badar bersiar riang disyurga Allah SWT menghirup segala kelazatan dan kenikmatan didalamnya kekal abadi sebagaimana yang telah dijanji Rasul Pilihan dan Pencipta Yang Maha Suci.

Ustaz Abu Bakar Hussain
( PESURUHJAYA PAS PERAK )

Wanita di Bawah Naungan Islam : Al-Iilaa

17 Ramadhan 1431H.
oleh : Said Abdul Aziz al-Jandul

Di antara tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya di masa jahiliyah (sebelum Islam) adalah apabila seorang suami telah tidak menyukai istrinya dan tidak suka pula kalau istri menikah lagi dengan lelaki lain (apabila ia cerai), maka ia bersumpah tidak akan mendekatinya selama-lamanya, sehingga istri menjadi hidup seorang diri, tidak berstatus janda dan tidak pula mempunyai suami. Perempuan biasa menanggung derita pelecehan pahit seperti itu hingga Islam datang dengan menghapus perbuatan pelecehan tersebut dengan menetapkan batas waktu iilaa’, yaitu hanya 4 bulan saja.

Ini merupakan jangka waktu yang cukup bagi suami untuk berinstrospeksi diri dan merenung akibat buruk perbuatannya dan tanggung jawabnya di hadapan Allah Subhaanahu Wata'ala. Dan Jika dengan ila’ itu ia bermaksud melecehkan tanpa ada sebab yang dilakukan oleh pihak istri, maka jangka waktu 4 bulan itu cukup bagi seorang istri untuk merenungkan dan mengambil keputusan jika suaminya telah bersumpah untuk menjauh darinya dan tidak akan mempergaulinya. Dan dengan berakhirnya jangka waktu ila’ yang telah ditetapkan itu, yaitu 4 bulan, maka harus ditentukan dua pilihan, yaitu: kembali bergaul dengan baik sebagaimana layaknya suami-istri, atau cerai (talak). Demikian Allah menegaskan:

لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (226) وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Kepada orang-orang yang meng-ila’ istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Jika mereka bertetap hati untuk talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 226-227).

Itu berati bahwa jangka waktu ila’ adalah hanya empat bulan saja. Apabila empat bulan ini berlalu dan suami belum kembali untuk mempergauli istrinya, maka ia harus men-talak-nya. Jika ia tidak mau melakukannya, maka hakim mentalak-kannya. Namun, rujuk atau kembali kepada istri dengan menggaulinya itu lebih baik daripada mentalaknya, karena cerai dapat menimbulkan berbagai hal yang negatif, yang paling mencolok di antaranya adalah tercerai-berainya keluarga dan anak-anak menjadi terlantar serta kehilangan rasa cinta dan kasih sayang yang pernah terjadi di antara keduanya. Oleh karena itulah Allah memberikan pahala rujuk berupa ampunan dan rahmat-Nya, sebagaimana Dia firmankan, “Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Wanita di Bawah Naungan Islam : Zhihar

oleh : Said Abdul Aziz al-Jandul

Zhihar secara bahasa mempunyai banyak makna, tergantung pada penggunaannya, seperti ungkapan: zhaahara Muhammadun khalidan, ini berarti Muhammad telah membela dan menolong Khalid. Zhaahara fulanu baina tsaubain, artinya: Si Fulan memakai baju dua rangkap. Zhaahara min imra’atihi, artinya: suami mengatakan kepada istrinya “kamu bagiku seperti punggung ibuku”. Maksudnya: haram bagiku menggaulimu sebagaimana aku haram menggauli ibuku sendiri.

Zhihar dalam arti syar’i-nya adalah suami menganggap istri atau salah satu anggota tubuhnya sama dengan perempuan yang haram atasnya secara nasab atau sepersusuan atau ikatan perkawanian. Jadi, kalau seorang suami berkata kepada istrinya: “Kamu bagiku laksana punggung ibuku sendiri” atau “laksana wajah saudara perempuanku” atau “laksana kepala bibiku”, dengan maksud bahwa istri haram atas suaminya sebagaimana haramnya ibu, saudari kandung atau bibi atasnya. Ungkapan seperti itu disebut zhihar, dan suami wajib membayar kaffarat bila hendak melakukan hubungan senggama dengan sang istri.

Kaffarat tersebut wajib hukumnya, sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur’an sesuai urutan berikut ini:

Memerdekakan seorang hamba sahaya (budak laki-laki atau perempuan).

Jika tidak mampu memerdekakan seorang budak maka berpuasa dua bulan penuh secara berurutan.

Jika tidak mampu berpuasa karena suatu sebab, maka memberi makan kepada 60 orang miskin.

Agama Islam telah menganggap zhihar sebagai sumpah, dan diwajibkan kaffarat karenanya, sebagai suatu bentuk pelajaran dan hukuman agar tidak mengulanginya kembali. Sebab, zhihar itu tidak akan terjadi kecuali atas dasar ungkapan yang dibenarkan oleh realita, yaitu memperlakukan istri seperti ibu sendiri di dalam keharamannya, hal mana merupakan perkara yang tidak logis dan bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebab, istri sangat tidak mungkin menurut logika akal sehat seperti ibu hanya dengan suatu ungkapan yang diucapkan. Sebab, ibu yang hakiki itu hanyalah dia yang melahirkan kita. Dan agar tidak selayaknya istri disamakan dengan ibu di dalam menghormat, berbelas kasih, memuliakan dan menghargai, maka Al-Qur’an menjadikan kalimat zhihar termasuk perkataan yang mungkar. Ayat Al-Qur’an menyebutkan:

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا

“Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan yang melahir-kan mereka. Dan mereka sungguh-sungguh mengucap suatu perkataan yang munkar dan dusta.” (Al-Mujadilah: 2).

Masalah zhihar itu sudah ada sebelum datangnya Islam, di mana seorang suami di masa jahiliyah apabila marah terhadap istrinya karena suatu masalah ia mengatakan: “Kamu bagiku bagaikan ibuku sendiri”. Maka istri itu menjadi haram atasnya dan ia pun tidak menceraikannya, melainkan terkatung-katung tidak diperlakukan sebagai istri, tidak dipenuhi kebutuhannya sebagai istri, dan tidak pula dicerai sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk menikah dengan lelaki lain. Ini adalah merupakan suatu bentuk pelecehan yang disandang oleh kaum perempuan di masa Jahiliyah dan terus berlanjut hingga kemudian Islam datang dengan menetapkan hukum zhihar seraya menggariskan jalan bagi ummat ini di dalam memecahkan problema rumah tangga seperti di atas dalam rangka menegakkan keadilan yang menimpa kaum perempuan. Hal itu ditegaskannya di dalam 4 ayat suci Al-Qur’an, dan dengannya Allah Subhaanahu Wata'ala membuka salah satu surat dari surat-surat Al-Qur’an, seraya berfirman,

قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (1) الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا وَإِنَّ اللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٌ (2) وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (3) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا ذَلِكَ لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal-jawab antar kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah perempuan yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapakan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun. Dan orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yng tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa, (wajib atasnya) memberikan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.” (Al-Mujadilah: 1-4).

Keempat ayat di atas diturunkan ketika pertama kali terjadi zhihar di dalam Islam, yaitu antara Khaulah binti Tsa’labah dengan suaminya Aus bin Shamit. Khaulah radhiyallahu ‘anha sempat menceritakan tentang peristiwa zhihar tersebut, seraya berkata, “Demi Allah, tentang diriku dan diri Aus bin Shamit, Allah menurunkan ayat-ayat awal Surah Al-Mujadilah.” Selanjutnya ia menuturkan: Ketika aku masih di sisinya, dia adalah seorang lelaki lanjut usia dan akhlaknya kurang baik. Pada suatu hari, ia datang kepadaku, lalu aku mengingatkannya tentang sesuatu. Maka ia pun marah dan berkata: “Engkau bagiku adalah bagai punggung ibuku.” Khaulah melanjutkan: Lalu ia pergi dan duduk-duduk di majlis rekan-rekannya sejenak dan setelah itu datang kepadaku, dan ternyata ia menghendakiku (bersenggama). Maka aku katakan, “Tidak! Demi Allah yang diri Khaulah ada di tangan-Nya, kamu tidak akan mendapatkanku, karena engkau telah mengucapkan apa yang telah engkau ucapkan, sebelum Allah dan rasul-Nya memberikan keputusan terhadap kita.”

Khaulah melanjutkan: “Maka ia melompat kepadaku, namun aku mengelak darinya hingga aku bisa lepas darinya, karena dia sudah tua dan lemah hingga aku dapat menolaknya dariku.”

Khaulah menuturkan: “Kemudian akau mendatangi salah seorang tetangga perempuanku untuk meminjam pakaian darinya. Setelah itu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan aku pun duduk di hadapan beliau, aku ceritakan kepadanya apa yang telah menimpaku. Aku laporkan semua tetang sikap buruknya terhadapku.”

Khaulah melanjutkan: Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai Khaulah, anak pamanmu itu (maksudnya: suaminya) adalah seorang lanjut usia, maka bertaqwalah kamu kepada Allah tentang dia.”

Lalu, jelang beberapa saat, turunlah Al-Qur’an mengenai aku. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjadi seperti tidak sadar (ketika menerima wahyu tersebut), dan setelah itu beliau bersabda kepadaku, “Wahai Khaulah, Allah telah menurunkan ayat mengenaimu dan suamimu.” Lalu Nabi membacakan kepadaku: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal-jawab antar kamu berdua”, hingga firman-Nya: “Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.”

Khaulah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Suruh dia memerdekakan budak.”

Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, dia tidak mempunyai sesuatu untuk memerdekakan budak.” Rasulullah bersabda, “Suruh dia berpuasa dua bulan berturut-turut.” Khaulah berkata, “Demi Allah, dia adalah seorang yang sudah lanjut usia tidak dapat melakukan puasa.” Rasulullah bersabda, “Suruh dia memberi maka enam puluh orang miskin berupa satu wasaq kurma.”

Khaulah berkata lagi, “Demi Allah, wahai Rasul, dia tidak mempunyai itu.” Lalu Rasulullah bersabda, “Aku akan membantunya dengan satu tandan buah kurma.” Khaulah berkata, “Ya Rasulullah, aku pun akan membantunya dengan setandan kurma juga.” Maka Rasulullah bersabda, “Kamu tepat dan kamu benar. Maka pergilah sekarang dan sedekahkanlah kurma itu atas nama dia, dan setelah itu jaga suamimu dengan baik.” Khulah menuturkan, “Maka aku pun melakukannya.”

Itulah kisah zhihar yang pertama kali terjadi di dalam Islam, dan dari kisah itu penulis akan merangkum beberapa pelajaran berikut ini:

Pertama, Sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang sekecil atom baik di bumi maupun di langit yang tidak diketahui oleh Allah.

Kedua, Sesungguhnya pendengaran-Nya meliputi seluruh suara, yang di antaranya adalah kisah tentang perempuan yang melapor halnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tadi, perempuan yang oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha dikatakan: “Telah datang seorang perempuan yang mendebat yaitu, Khaulah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sisi bilikku, di mana aku tidak mendengar apa yang ia bicarakan. Maka Allah Subhaanahu Wata'ala menurunkan ayat-Nya: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah.....”.

Ketiga, Allah Subhaanahu Wata'ala mengabulkan do’a hamba-Nya bila mereka mengadu dan kembali kepada-Nya di saat mereka dalam krisis. Masalah Allah Subhaanahu Wata'ala mengabulkan do’a seorang perempuan awam, sebagaimana di dalam kisah di atas memberikan rasa keyakinan penuh di dalam hati bahwa Allah sangat dekat dari hamba-Nya, dan bahwasanya Allah Subhaanahu Wata'ala tidak pernah lalai terhadap sesuatu apapun yang ada di langit dan di bumi.

Keempat, Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wata'ala yang menurunkan ayat-ayat Al-Qur’an mengenai peristiwa di atas, sebenarnya memberikan penegasan kepada segenap manusia akan kesem-purnaan kemanusiaan kaum perempuan dan perhatian-Nya kepada kaum perempuan sama dengan perhatian-Nya kepada kaum lelaki.

DOSA-DOSA YANG DIANGGAP BIASA : KESAKSIAN PALSU (DUSTA)

17 Ramadhan 1431H.
oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid

41. KESAKSIAN PALSU (DUSTA)

Allah berfirman, “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta, dengan ikhlas kepada Allah, tidak menyekutukan sesuatu dengan Dia.” (Al-Hajj: 30-31).

Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abi Bakrah radhiallahu ‘anhu, dari ayahnya, ia berkata, “Kami sedang berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda,

أَلاَ أُنَبِّؤُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ [ثَلاَثًا]؟ اْلإِشْرَاكُ بِاللهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ، -وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا- فَقَالَ: أَلاَ وَقَوْلُ الزُّوْرِ، قَالَ: فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْنَا: لَيْتَهُ سَكَتَ.

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang tiga dosa besar yang terbesar? (tiga kali), yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” (ketika itu beliau bersandar, kemudian beliau duduk dan berkata), “Ketahuilah, dan perkataan dusta.” Ia berkata, “Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih terus mengulang-ulangnya sehingga kami berkata, ”Mudah-mudahan beliau diam.”( Hadits riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Bari, 5/261.)

Berulang-ulangnya peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kesaksian palsu tersebut karena banyak orang yang meremehkannya. Di samping banyak faktor yang mengakibatkan kesaksian palsu, misalnya karena permusuhan, dengki dan sebagainya. Juga karena kesaksian palsu mengakibatkan berbagai bentuk kerusakan di muka bumi. Berapa banyak orang yang kehilangan hak-haknya karena kesaksian palsu, berapa banyak pula penganiayaan menimpa orang-orang yang tak berdosa disebabkan kesaksian palsu atau seseorang mendapatkan sesuatu yang bukan haknya atau dinisbatkan kepada nasab yang bukan nasabnya. Semua itu disebabkan oleh kesaksian palsu.

Termasuk menganggap enteng masalah ini adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang di pengadilan dengan mengatakan kepada seseorang yang ia temui “Jadilah saksi untukku, nanti aku akan menjadi saksi untukmu.” Maka laki-laki itupun memberikan kesaksian atas perkara yang tidak diketahuinya. Misalnya, memberi kesaksian tentang pemilikan tanah, rumah atau keterangan bersih diri. Padahal dia tidak pernah bertemu orang tersebut kecuali di pintu pengadilan atau di koridor/ruang lobi. Ini adalah satu kedustaan. Seharusnya, semua bentuk kesaksian itu adalah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah, “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui” (Yusuf: 81)

DOSA-DOSA YANG DIANGGAP BIASA : MENGGUNAKAN BEJANA YANG TERBUAT DARI EMAS DAN PERAK

17 Ramadhan 1431H.
oleh : Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid

40. MENGGUNAKAN BEJANA YANG TERBUAT DARI EMAS DAN PERAK

Saat ini hampir setiap toko alat-alat dan perabotan rumah tangga menjual aneka ragam bejana yang terbuat dari emas dan perak atau bejana yang disepuh dengan keduanya.

Demikian juga dengan orang-orang kaya dan hotel-hotel mewah, bahkan saat ini bejana emas dan perak dijadikan barang berkelas dan memiliki gengsi tersendiri jika dihadiahkan sebagai cendera mata kepada kawan karib atau kolega pada kesempatan-kesempatan tertentu. Sebagian orang ada yang tidak memajang barang-barang itu di etalase rumahnya, tetapi mereka pergunakan dalam kesempatan-kesempatan pesta, atau dipinjamkan kepada kawan-kawannya yang membutuhkan.

Semua hal yang disebutkan di atas, dalam syariat Islam hukumnya haram. Dalam hadits yang diriwayatkan Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan ancaman kepada mereka. Beliau bersabda,


إِنَّ الَّذِيْ يَأْكُلُ أَوْ يَشْرَبُ فِيْ آنِيَةِ الْفِضَّةِ وَالذَّهَبِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِيْ بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ.


“Orang yang makan atau minum di bejana perak dan emas, sesungguhnya ia menggemuruhkan api Jahannam di perut-nya.”( HR. Muslim, 3/1634.)

Ketentuan hukum di atas berlaku untuk semua perabotan dan perlengkapan makan. Seperti piring, garpu, sendok, pisau, nampan untuk menyuguhkan makanan kepada tamu, kaleng kue yang disuguhkan saat pesta dan bejana lainnya yang terbuat dari bahan emas dan perak.

Sebagian orang berkata, kami tidak menggunakan bejana-bejana tersebut, tetapi hanya menyimpannya di almari sebagai hiasan. Semacam ini juga tidak dibolehkan, demi mencegah kemungkinan dipakainya perabotan tersebut.( Diambil dari keterangan Syaikh Abdul Aziz bin Baz secara lisan. )

Puasa Tetapi Tidak Solat

17 Ramahdhan 1431H.
www.muslim.or.id

Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya: "Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan solat?"

Beliau rahimahullah menjawab:

"Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan solat tidaklah diterima kerana orang yang meninggalkan solat adalah kafir dan murtad. Dalil bahawa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta'ala,

"Jika mereka bertaubat, mendirikan solat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui." (Qs. At Taubah [9]: 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,

"Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan solat." (HR. Muslim no. 82)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,

"Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai solat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir." (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat yang mengatakan bahawa meninggalkan solat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat majoriti sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut adalah ijma' (kesepakatan) para sahabat.

'Abdullah bin Syaqiq ��"rahimahullah- (seorang tabi'in yang masyhur) mengatakan, "Para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara solat." [Perkataan

ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari 'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim mengatakan bahawa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52, -pen]

Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan solat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti.

Oleh sebab itu, kami katakan, "Solatlah kemudian tunaikanlah puasa." Adapun jika engkau puasa namun tidak solat, amalan puasamu akan tertolak kerana orang kafir (disebabkan meninggalkan solat) tidak diterima ibadah daripadanya.

[Sumber: Majmu' Fatawa wa Rosa-il Ibnu 'Utsaimin, 17/62, Asy Syamilah]

Perang Badar inspirasi umat Islam di bulan Ramadan

17 Ramadhan 1431H.
Zaini Hashimi

Tazkirah Ramadan Setelah penghijrahan baginda Nabi s.a.w ke Madinah, permusuhan kaum kafir Quraish terhadap umat Islam masih belum reda.

Penyiksaan dan gangguan mereka kepada kaum muslimin yang masih berada di Mekah dan tidak dapat keluar dari kota itu semakin menjadi-jadi.

Pada sudut yang lain pula harta benda yang ditinggalkan oleh mereka yang telah berhijrah ke Madinah dirampas oleh Quraish.

Hal inilah yang menjadi dasar bagi baginda Rasulullah s.a.w untuk menyekat kafilah dagang Quraish yang melintas dekat Madinah dalam perjalanan perniagaan menuju Syam atau dari Syam menuju Mekah.

Tahun kedua hijrah, Rasulullah s.a.w bersama 313 sahabatnya bergerak menuju Badar untuk menyekat kafilah Quraish yang membawa harta berlimpah hasil dari perniagaan di Syam.

Setelah mendengar berita itu, Abu Sufyan, yang memimpin kafilah ini, mengirimkan utusannya ke Mekah untuk meminta bantuan tentara Quraish dalam menghadapi ancaman ini.

Bagi Quraish, sekatan kafilahnya oleh kaum muslimin tidak bererti kerugian harta tetapi apa yang paling penting baginya ialah kehormatan suku besar di Mekah ini.

Untuk itu, Abu Jahl yang merupakan salah seorang bangsawan terkemuka Quraish bersama seribu orang lengkap dengan peralatan perang meninggalkan kota Mekah dan bergerak menuju Badr.

Sementara kafilah pimpinan Abu Sufyan dengan melintasi jalan alternatif berjaya meloloskan dari sekatan kaum muslimin.

Abu Sufyan mengirimkan utusannya untuk meminta Abu Jahl kembali ke Mekah kerana baginya dia telah berjaya melepaskan diri daripada sekatan bahaya itu.

Namun pesanan itu ditolak oleh Abu Jahl beliau segera bersiap untuk berperang bagi menghadapi pasukan Islam Madinah.

Di Badar, pasukan muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah s.a.w telah bersiap siaga sepenuhnya. Pasukan kecil berjumlah 313 orang dan peralatan yang ala kadarnya, siap menghadapi seribu orang di barisan Quraish yang lengkap bersenjata.

Namun keimanan yang dimiliki oleh umat Islam menjadi sandaran dan pendorong mereka untuk tegar dan siap menanti kematian di jalan Allah yang basalannya adalah syurga.

Tepat pada tarikh 17 Ramadan tahun kedua hijrah, perang di Badar berkecamuk setelah dimulai dengan konfrantasi iaitu satu lawan satu antara tiga pihak dari dua barisan perang.

Satu demi satu wakil musuh terkorban. Darah bersimbah di sana sini. Tak lama, berita tersebar bahwa Abu Jahl yang pernah disebut Rasulullah sebagai Firaun di tengah umat ini tewas di tangan pasukan muslimin.

Dengan terbunuhnya Abu Jahl dan beberapa pemuka Quraish di medan perang Badar menjadi pukulan hebat bagi pasukan Mekah yang akhirnya memilih untuk melarikan diri.

Dalam perang Badar, pasukan Quraish menderita kerugian tujuh puluh tewas dan tujuh puluh yang lain menjadi tawanan.

Sementara barang rampasan perang yang ditinggalkan bukanlah jumlah yang sedikit, dianggarkan sebanyak 150 unta, sepuluh kuda, sejumlah kulit dan kain, serta peralatan perang ditinggalkan oleh pasukan Mekah yang lari tunggang langgang menyelamatkan diri.

Suasana pada malam tercetusnya perang di Badar

Malam itu terjadi beberapa keajaiban, perasaan takut dan tertekan yang ada pada kaum Muslimin tiba-tiba hilang, pasukan Islam menikmati malam itu dengan senang dan tenang, dan akhirnya tertidur dengan puas.

Hujan pun turun, membasahi pasir padang Badar sehingga menjadi padat dan lembut apabila dipijak (pasir dalam keadaan kering, seperti pasir pantai, membuat susah berjalan). Inilah seperti yang dijanjikan Allah dalam Al Anfaal (surat kedelapan) ayat 8:

"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu ketenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepada kamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu)."

Subuh hari, Abu Bakar "menganggu" ibadah Rasul karena kafir Quraish sudah semakin hampir mendekati umat Islam.

Pasukan Islam dengan segera membuat persiapan, ketika pasukan kafir Quraish sudah kelihatan jelas oleh Rasul, Rasul memanjatkan doa, "Ya Allah! Kaum kafir Quraish yang enggan untuk menyembahMu dan mendustai utusanMu sudah berada di sini. Ya Allah, kami menunggu dan megharapkan daripadaMu kemenangan yang Engkau janjikan kepadaku dan sahabat-sahabatku. Kami memohon kepadaMu, ya Allah, untuk mengalahkan mereka."

Rasulullah minta pendapat sahabat sebelum berangkat ke Badar

Sebaliknya pihak Muslimin, yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan, sudah sepakat akan bertahan terhadap musuh bila diserang.

Oleh karena itu merekapun segera berangkat ke tempat mata air di Badar itu, dan perjalanan ini lebih mudah lagi karena waktu itu hujan turun.

Setelah mereka sudah mendekati mata air, Rasulullah berhenti. Ada seseorang yang bernama Hubab bin Munzir bin Jamuh, orang yang paling mengetahui atau disifatkan sebagai seorang pakar tentang mengenal tempat itu, setelah melihat Nabi turun di tempat tersebut, dia bertanya: "Rasulullah, bagaimana pendapat tuan untuk berhenti di tempat ini? Kalau ini sudah wahyu Tuhan, kita takkan maju atau mundur setapakpun dari tempat ini. Ataukah ini sekadar pendapat tuan sendiri, suatu taktik perang belaka?"

"Sekadar pendapat saya dan sebagai taktik perang," jawab Rasulullah.

"Rasulullah," katanya lagi. "Kalau begitu, tidak tepat kita berhenti di tempat ini. Mari kita pindah sampai ke tempat mata air terdekat yang tahu tempat itu dengan penuh yakin, lalu telaga-telaga kering yang di belakang itu kita timbun setelah diambil airnya. Selanjutnya kita membuat kolam, kita isi sepenuhnya. Barulah kita hadapi mereka berperang. Kita akan mendapat air minum, mereka tidak."

Melihat saran Hubab yang begitu tepat itu, Nabi Muhammad dan rombongannya segera pula bersiap-siap dan mengikut pendapat temannya itu, sambil mengatakan kepada sahabat-sahabatnya bahawa dia juga manusia seperti mereka, dan bahawa sesuatu pendapat itu dapat dimusyawarahkan bersama-sama dan dia tidak akan menggunakan pendapat sendiri di luar mereka. Dia perlu sekali mendapat konsultasi yang baik dari sesama mereka sendiri.

Selesai kolam itu dibuat, Sa'd b. Mu'az memberikan usulnya: "Rasulullah," katanya, "kami akan membuatkan sebuah dangau buat tempat Tuan tinggal, kenderaan Tuan kami sediakan. Kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh. Kalau Tuhan memberi kemenangan kepada kita atas musuh kita, itulah yang kita harapkan.

"Tetapi kalau pun sebaliknya yang terjadi; dengan kenderaan itu Tuan dapat menyusul teman-teman yang ada di belakang kita. Rasulullah, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tinggal di belakang, dan cinta mereka kepada tuan tidak kurang dari cinta kami ini kepada tuan.

"Sekiranya mereka dapat menduga bahawa tuan akan dihadapkan pada perang, nescaya mereka tidak akan berpisah dari tuan. Bagi mereka Tuhan menjaga tuan. Mereka benar-benar ikhlas kepada tuan, berjuang bersama tuan."

Nabi Muhammad s.a.w sangat menghargai dan menerima baik saranan Sa'd itu. Sebuah dangau buat Nabi lalu dibangunkan. Jadi bila nanti kemenangan bukan di tangan Muslimin, ia takkan jatuh ke tangan musuh, dan masih akan dapat bergabung dengan sahabat-sahabatnya di Yathrib.

Di sini orang perlu berhenti sejenak dengan penuh kekaguman, kagum melihat kesetiaan Muslimin yang begitu dalam, rasa kecintaan mereka yang begitu besar kepada Rasulullah, serta dengan kepercayaan penuh kepada ajarannya.

Semua mereka mengetahui, bahawa kekuatan Quraish jauh lebih besar dari kekuatan mereka, jumlahnya tiga lipat ganda banyaknya. Tetapi, sungguhpun begitu, mereka sanggup menghadapi, mereka sanggup melawan.

Dan mereka inilah yang sudah kehilangan kesempatan mendapatkan harta rampasan. Tetapi sungguhpun begitu karena bukan pengaruh kebendaan itu yang mendorong mereka bertempur, mereka selalu siap disamping Nabi, memberikan dukungan, memberikan kekuatan.

Dan mereka inilah yang juga sangsi, antara harapan akan menang, dan kecemasan akan kalah. Tetapi, sungguhpun begitu, fikiran mereka selalu hendak melindungi Nabi, hendak menyelamatkannya dari tangan musuh. Mereka menyiapkan jalan baginya untuk menghubungi orang-orang yang masih tinggal di Medinah.

Suasana yang bagaimana lagi yang lebih patut dikagumi daripada ini? Iman mana lagi yang lebih menjamin akan memberikan kemenangan seperti iman yang ada ini?

Menentukan nasib 70 orang tawanan

Baginda Rasulullah s.a.w mencari kesempatan dan ruang ada untuk bertemu dua sahabat terdekatnya bagi meminta pandangan mereka berdua berhubung isu tawanan.

Abu Bakar menyatakan bahawa setiap seorang daripada mereka mengajar sepuluh anak orang Islam dalam pelbagai bidang ilmu pengetahuan, agar kesemua mereka hingga berjumlah 700 anak orang-orang Islam menjadi pandai dan celik ilmu, inilah juga pandangan peribadi Rasulullah s.a.w.

Walau bagaimanapun, Omar tidak bersetuju dengan pandangan itu, beliau mencadangkan agar setiap mereka itu dibunuh sahaja, kerana merekalah penyebab kepada masalah syirik dan penentangan terhadap ajaran-ajaran baginda Rasulullah kalau masih mahu mereka terus hidup.

Rasulullah tidak dapat berkata apa-apa terhadap dua pandangan yang sama sekali bercanggah antara satu sama lain, namun pada malam itu baginda menerima turunnya wahyu Ilahi agar kesemua tawanan itu dihapuskan dari muka bumi ini, kisah itu dirakan menerusi ayat 67 surah al-Anfal : "Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai (menyimpan) tawanan sebelim ia dapat melumpuhkan musushnya di muka bumi. Kamu mengharapkan harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat untukmu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Keesokan harinya, baginda bertemu semula dengan dua orang sahabat karibnya bagi menyatakan ketegasan Allah mengenai masalah tawanan, sambil baginda menyifatkan sikap Abu Bakr seperti Nabi Nuh dan Isa dan menyifatkan sikap Omar seperti Nabi Ibrahim dan Musa yang sentiasa tegas dalam segenap tandak-tanduknya.

Akhirnya baginda Rasulullah s.a.w menyatakan arahan Allah supaya kesemua tawanan itu perlu dihapuskan daripada muaka bumi ini dengan segera sebelum berbagai-bagai tindakan lain muncul bagi melemahkan Islam dan umatnya.

Mengapa perang ini begitu istimewa?

Pertama, karena Perang ini Rasulullah beserta pasukannya mengalami kemenangan meskipun hanya berjumlah 313 orang sahabat (terdiri dari 82 Muhajirin, 61 dari suku Aus dan 170 dari suku Kharaj) serta pasukan kaum muslimin hanya memiliki dua ekor kuda dan 70 ekor unta, bahkan satu ekor dinaiki sampai dua tiga orang.

Kedua, baginda mengadakan mesyuarat terlebih dahulu sebelum berangkat ke Badr, sesungguhnya tindakan baginda itu tidak sedikitpun mengurangkan kedudukannya sebagai seorang pemimpin tertinggi umat Islam dan perkara bagi menentukan nasib para tawanan yang berjumlah seramai 70 orang, baginda meminta pandangan dua orang sahabatnya yang terdekat iaitu Saidina Abu Bakr dan Saidina Omar Bin al-Khattab untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Ketiga, peranan doa yang diajarkan oleh baginda menjadi teras dan pemangkin sebelum sesuatu tindakan dibuat, ia bertujuan untuk mendapatkan keredaan dan restu Allah.

Keempat, walaupun menghadapi suasana getir dalam peperangan, ia sedikitpun tidak mengalang umat Islam daripada terus berpuasa, apatah lagi ia merupakan arahan Rasulullah dan pelengkap kepada rukun Islam yang lima.

Kelima, jumlah yang sedikit bukan ukuran untuk mudah dikalahkan, yang penting kesungguhan, keutuhan jati diri, kerjasama dan perancangan yang hebat menjadi penentu kepada sesuatu kejayaan.

Keenam, kepatuhan kepada arahan pimpinan yang tidak berbelah bagi dalam perkara yang tidak menyanggah agama, menjadi faktor utama keberhasilan mendapatkan kejayaan.

Ketujuh, mengetahui sumber peralatan perang pihak musuh seperti pengetahuan Nabi terhadap bilangan unta yang dimiliki tentera Quraish boleh membantu melancarkan strategi peperangan.

Kelapan, menghantar wakil bertemu pihak musuh dari kalangan individu yang hebat seperti Saidina Hamzah, Saidina Ali boleh menggerunkan pihak musuh, kerana mereka beranggapan bahawa pihak umat Islam memiliki pasukan perang terkuat yang sukar dikalahkan.

Kesembilan, menghalakan niat dan matlamat perang menghadapi musuh adalah kerana Allah dan meninggikan syiar-syiar agama-Nya, bukan atas tujuan meraih harta dan habuan dunia yang melalaikan.

Kesepuluh, cara berfikir yang bernas patut dilontarkan ketika mengadakan sesuatu perbincangan untuk mencari jalan penyelesaian seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr dan Omar bagi menyelesaikan isu tawanan perang. Kesebelas, sebagai seorang Nabi, baginda tidak sedkitpun rasa malu untuk menerima pandangan dari sahabatnya yang bukan bertaraf Nabi atau Rasul dalam isu-isu tertentu bagi mencari jalan penyelesaiannya.

Keduabelas, sesungguhnya banyak pengajaran positif yang perlu diambil kira oleh setiap individu muslim yang cintakan agamanya ke arah satu tahap kekuatan dalam pelbagai aktiviti harian hidup mereka.

Harakahdaily/-

27 Ogos 2010

Alhamdulillah klik ke 10 juta pada 17 Ramadhan sebentar tadi.

17 Ramadhan 1431H,

Pencapaian klik ke 10 juta pada jam 11.09 minit sebentar tadi saya saksikan sendiri selepas balik dari berterawih bersama rakyat seperti biasa.

Saya rasa bertuah kerana pencapaian kali ini bertepatan dengan tarikh Nuzul Quran yang jatuh pada 17 Ramadhan .

Sekali lagi saya ucapkan jutaaan penghargaan dan terima kasih atas sokongan dan dokongan semua pihak sehingga blog ini mencapai tahap yang dicapai sekarang.

Tiada kuda tunggangan di sini

16 Ramadhan 1431H.
Selena Tay

Penulis selalu sahaja mendengar BN berkata kepada orang Melayu bahawa PAS ialah kuda tunggangan DAP dan kepada orang Cina pula BN akan berkata bahawa DAP ialah kuda tunggangan PAS.

Ungkapan sebegini ialah taktik BN untuk memecahbelahkan Pakatan Rakyat dengan tujuan melaga-lagakan PAS dan DAP dan juga untuk mengurangkan sokongan kepada kedua-dua parti itu. Taktik ini amat merbahaya sebab ada ramai pengundi Melayu dan Cina yang akan termakan umpan tersebut.

BN telah berkata bahawa PAS menggunakan DAP dengan tujuan mendapat sokongan kaum Cina supaya boleh mendapat undi yang cukup untuk menerajui pucuk pimpinan di Putrajaya dengan tujuan untuk melaksanakan Hukum Hudud dan oleh itu adalah merbahaya untuk kaum Cina menyokong PAS.

Sementara itu, kepada pengundi Melayu pula, BN berkata bahawa DAP memperkudakan PAS dan BN berharap bahawa ungkapan ini akan membuat orang Melayu marah terhadap PAS seolah-olah PAS sebagai sebuah parti Islam dan Melayu telah hilang kuasa Melayu dan telah tunduk kepada kaum Cina.

Penulis ingin mengingatkan semua rakyat Malaysia bahawa didalam Pakatan Rakyat, tiada terdapat kuda tunggangan sebab dalam Dasar Pakatan Rakyat yang telah ditandatangani oleh Anwar Ibrahim, Ustaz Hadi Awang dan Lim Kit Siang, semua parti dalam Pakatan Rakyat adalah sama pangkat dan sama taraf serta kedudukannya.

PAS, DAP dan PKR akan akur kepada prinsip-prinsip yang adil dan saksama dalam manifesto Dasar Pakatan Rakyat ini sebab Dasar Pakatan Rakyat ini bertujuan mempertahankan dan mengukuhkan prinsip-prinsip Perlembagaan Persekutuan dan dasar ini juga menjamin hak semua rakyat Malaysia, tidak kira bangsa dan agama, seperti yang telah termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan.

Tidak seperti didalam BN dimana Umno ialah tuan besar dan MCA, MIC dan Gerakan selalu sahaja mesti akur kepada kehendak tuan besar Umno. Setiap kali apabila MCA atau Gerakan mengeluarkan sesuatu kenyataan yang tidak sedap didengar oleh Umno, Umno akan menegur mereka dan dengan serta-mertanya mereka pun akan menarik-balik kenyataaan tersebut. MIC pula tidak berani bersuara dari dulu, kini dan akan begitu selama-lamanya.

Penulis berpendapat di dalam BN saja yang terdapat kuda tunggangan dimana MCA, Gerakan dan MIC telah diperkudakan oleh Umno untuk mendapat sokongan bangsa bukan-Melayu. Umno perlukan MCA, Gerakan dan MIC untuk 'sweet talk' kaum Cina dan kaum India dengan tujuan untuk meraih sokongan kaum Cina dan kaum India bagi Umno/BN. Itu sahaja. Dan jawapan MCA, Gerakan dan MIC ialah, 'yes sir, yes sir, thank you sir.'

Rakyat Malaysia mesti berfikir dengan matang dan jangan terpedaya oleh ungkapan-ungkapan BN yang penuh dengan muslihat itu. Kerjasama diantara 3 parti dalam Pakatan Rakyat itu adalah amat erat dan bagus sekali dimana semua ahli-ahli parti diberi peluang bersuara dan mengemukakan pendapat, tidak seperti dalam BN dimana Umno mentadbir dengan kuku besi dan MCA, Gerakan dan MIC terpaksa berkata 'ya' sepanjang masa.

Penulis ingin menekankan sekali lagi disini bahawa tiada terdapat kuda tunggangan dalam Pakatan Rakyat sebab Pakatan Rakyat mengamalkan prinsip-prinsip demokrasi yang kukuh, adil dan saksama dan bertujuan menegakkan keadilan untuk semua rakyat Malaysia. Maklumlah, nama Pakatan ialah Pakatan Rakyat dimana keadilan dan kemakmuran untuk rakyat adalah diperjuangkan bersama dan ialah tumpuan utama Pakatan.

...Penulis adalah ahli Dewan Himpunan Penyokong PAS Pusat