21 August 2013

Perang Tabuk (3)


14 Syawal 1434 H. [MOD] -
Ustaz Abu Muhammad Harits,21 Ogs 2013
Peperangan tidak terjadi. Tidak diketahui alasan yang pasti mengapa peperangan itu tidak terjadi, walaupun ada yang menyebutkan salah satu alasan itu di antaranya; tentera Rom lebih suka tinggal di dalam wilayah Syam untuk berlindung di kubu-kubunya ketika sampai kepada mereka berita tentang kekuatan pasukan muslimin.

Apa pun alasannya, Rasulullah SAW tetap di Tabuk selama beberapa hari, dan mengirim beberapa pasukan kecil ke sekitar daerah Tabuk. Tindakan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini menambah kekuatan wibawa Islam di wilayah utara jazirah ‘Arab dan membuka jalan ke arah penaklukan daerah Syam sesudah itu.

Walaupun tidak terjadi pertempuran, ada sahabat yang meninggal dunia.


Abdullah bin Mas’ud RA menceritakan, pada suatu malam yang sunyi dia terjaga dari tidurnya kelihatan api di bahagian agak jauh dari pasukan. Beliau berusaha mendekati cahaya api tersebut. Ternyata, Rasulullah SAW, Abu Bakr dan Umar sedang mengurus jenazah Abdullah Dzul Bijadain (kain hitam yang tebal) Al-Muzani.


Rupa-rupanya, Rasulullah SAW bersama kedua sahabatnya itu sudah menggali kuburan untuk jenazahnya. Rasulullah SAW masuk ke dalam liang kubur itu, sementara Abu Bakr dan Umar mendekatkan jenazah itu kepada beliau yang berkata, “Kemarikan jenazah saudara kamu itu.”


Setelah meletakkannya di dalam kubur tersebut, beliau berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku meredhainya, maka redhailah dia.” Mendengar doa itu, Abdullah bin Mas’ud RA berkata dalam hati, “Duhai, kiranya akulah yang dikuburkan itu.”


Onar Kaum Munafik

Perang Tabuk dinamakan juga ghazwatul ‘usrah (Perang Kesulitan), kerana terakamnya pelbagai kesulitan terhadap kaum muslimin, sama ada dalam hal kenderaan, perbekalan, air, cuaca, jalan, mahupun gangguan orang-orang munafik. Akan tetapi, sahabat-sahabat Rasulullah SAW begitu tabah memikul semua kesulitan tersebut di jalan Allah. 

Bagaimanapun, kaum munafik tidak pernah membiarkan satu peluang pun untuk menjatuhkan Islam dan kaum muslimin. Lebih-lebih lagi, di dalam peperangan ini. Sejak awal persiapan, mereka sudah mula berusaha meruntuhkan semangat kaum muslimin agar tidak berangkat berjihad di panas yang terik ini.

Dalam masa-masa perang Tabuk inilah turun surat At-Taubah mendedahkan watak asli kaum munafikin. Allah SWT benar-benar membuka aib mereka dan menampakkan kejahatan hati mereka kepada kaum mukminin dengan lengkap dan jelas. Allah SWT menerangkan alasan yang mereka dibuat-buat agar tetap tinggal di Madinah, tidak ikut berperang.


Allah SWT berfirman, maksudnya:


“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahawa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam uzurnya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta? Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (surah at-Taubah : ayat 42-44)


Ibnu Katsir t dalam tafsirnya menerangkan, “Allah SWT mencela orang-orang yang tertinggal dari Nabi SAW dalam perang Tabuk sesudah meminta izin dan menampakkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai uzur, padahal tidak demikian.”


Allah SWT berfirman - (Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh), kata Ibnu ‘Abbas RA, “(Ertinya) ghanimah yang dekat (mudah diperoleh); (dan perjalanan yang tidak berapa jauh), yang dekat juga; pasti mereka mengikutimu untuk mendapatkannya, tetapi perjalanan ke Syam amat jauh terasa oleh mereka. Apabila kamu kembali kepada mereka, tentu mereka akan bersumpah, “Seandainya kami tidak mempunyai uzur, pasti kami berangkat bersamamu.”

Itulah sebagian alasan mereka yang dibuat-buat.


Ada pula di antara mereka yang ikut serta sampai di Tabuk, ternyata berusaha menyebarkan keraguan dalam hati kaum muslimin.


Ketika Rasulullah SAW kehilangan untanya, seorang munafik mengatakan,“Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?”


Rasulullah SAW pun berkata, sementara Umarah, salah seorang sahabat ada di dekat beliau, “Ada orang yang mengatakan, ‘Kalau memang Muhammad mengaku nabi dan menyampaikan kepada kamu berita dari langit, mengapa dia tidak mengetahui di mana untanya berada?’ Demi Allah, saya memang tidak mengetahui apa-apa kecuali yang diberitahukan oleh Allah. Dan Allah telah menerangkan kepada saya di mana unta tersebut. Unta itu di lembah itu, di jalan itu, dan talinya tersangkut sebatang pohon.”


Tidak lama kemudian, beberapa sahabat berangkat hendak mencarinya.


Umarah pun kembali ke khemahnya dan berkata, “Demi Allah, sungguh ajaib yang diceritakan oleh Rasulullah SAW tadi, tentang perkataan seseorang yang diberitakan oleh Allah kepada beliau.” Mendengar ucapan Umarah ini, salah seorang yang ada di situ, tapi tidak mendengar langsung perkataan Rasulullah SAW, berkata, “Demi Allah yang diucapkan oleh Rasulullah itu adalah perkataan yang diucapkan Zaid bin Lushaid, sebelum engkau datang.”


Umarah menjadi marah, dia pun mencekik leher Zaid dan mengusirnya dari khemah itu dan melarangnya bersamanya lagi, “Di khemahku ada kejadian begini, dalam keadaan aku tidak tahu? Keluarlah kau dari khemahku, hai musuh Allah. Jangan bersamaku lagi.”

Ucapan berbahaya ini masih tidak begitu berat. Kaum munafik tidak berhenti sampai di situ. Mereka pun merancang membunuh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW mulai bertolak menuju Madinah. Dalam perjalanan, beberapa segelintir munafik mengadakan perancangan untuk membunuh Rasulullah SAW dengan cara menolak Baginda jatuh dari puncak tebing di jalan tersebut. Kemudian, Rasulullah SAW mengatakan, “Siapa di antara kamu mau melalui dasar lembah, itu lebih luas bagi kamu.”


Akhirnya, Rasulullah SAW melalui jalan yang mendaki, sedangkan pasukan muslimin melalui dasar lembah, kecuali beberapa orang yang ingin membunuh Rasulullah SAW tadi. Oleh itu, ketika mereka mendengar ucapan baginda, mereka segera bersiap-siap dan menutupi muka mereka.


Alangkah keji perancangan mereka terhadap Rasulullah SAW.


Rasulullah SAW memanggil Hudzaifah Ibnul Yaman dan ‘Ammar bin Yasir agar berjalan bersama beliau. Lalu beliau memerintahkan ‘Ammar memegang tali unta, sedangkan Hudzaifah mengekorinya.


Pada waktu mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara di belakang mereka. Rupa-rupanya, orang-orang munafik tadi sedang berusaha menyusul baginda.


Rasulullah SAW marah dan memerintahkan agar Hudzaifah menjauhkan mereka. Oleh sebab melihat kemarahan di wajah Rasulullah, Hudzaifah segera berpusing sambil membawa sebatang tongkat yang berkeluk kepalanya. Kemudian, dia menghadang kenderaan mereka dan memukulnya dengan tongkat.

Hudzaifah pun melihat orang-orang munafik itu dalam keadaan menutup wajah mereka. Hudzaifah mengira mereka menutupi wajah itu sekadar kebiasaan musafir, padahal tidak. Mereka ingin menyembunyikan identiti yang sesungguhnya.

Demikianlah keadaan kaum munafik, mereka menutupi diri, bersembunyi dari manusia, tetapi tidak dapat menyembunyikan diri dari Allah, kerana Allah beserta mereka. Allah sudah memperhitungkan semua tindak-tanduk mereka dan telah menyiapkan balasan yang setimpal buat mereka di dunia dan akhirat.

Rasa takut muncul dalam hati mereka ketika melihat Hudzaifah berdiri di jalan yang akan mereka lalui. Mereka menyangka rancangan mereka sudah diketahui oleh Hudzaifah. Akhirnya, mereka segera bergabung dengan pasukan, sementara Hudzaifah kembali menuju Rasulullah SAW.


Setelah hampir, Rasulullah SAW berkata, “Pukullah kendaraan ini, hai Hudzaifah! Dan berjalanlah, hai ‘Ammar!”

Rombongan Nabi mempercepat jalan mereka hingga tiba di puncak bukit, lalu keluar dari jalan itu menunggu pasukan.

Nabi SAW bertanya kepada Hudzaifah, “Tahukah engkau siapa rombongan pengendara tadi?”


Kata Hudzaifah, “Saya mengenal kendaraan si fulan dan si fulan. Waktu itu malam sangat gelap dan mereka menutupi wajah mereka.”


Rasulullah SAW bertanya lagi, “Tahukah engkau apa yang mereka inginkan?”

Keduanya berkata, “Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah.”


Kata beliau, “Sesungguhnya mereka merancang hendak ikut berjalan bersamaku, dan kalau sudah tiba di jalan yang berbukit, mereka akan mendorongku sampai jatuh.”

Serempak mereka berkata, “Kalau begitu, mengapa Rasulallah tidak memerintahkan mereka dipanggil, agar kami penggal leher mereka?”

Baginda pun berkata, “Saya tidak suka orang akan mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabatnya. Kemudian beliau menyebut nama-nama mereka dan berkata, Rahsiakanlah oleh kamu berdua!” (HR. Ahmad (5/453), pentahqiq Zadul Ma’ad mengatakan rawi-rawinya tsiqat (terpercaya) dan ada penguatnya dalam Shahih Muslim (2779) (11).)


Sejak saat itu pula Hudzaifah dikenal sebagai pemegang rahasia nama-nama kaum munafik lengkap dengan ciri-ciri mereka. Selepas kewafatan Rasulullah SAW, para sahabat mengetahui seseorang itu munafik, apabila Hudzaifah tidak mahu menyembahyangkan jenazahnya.


Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan yang sukar itu, terdengar pula sebuah ucapan dari salah seorang perajurit, “Kita belum pernah melihat qurra` (tamu, ahli baca Quran) kita seperti mereka ini,” yang dimaksudkannya adalah peribadi Rasul SAW dan para sahabat, “Paling gendut perutnya, tidak (pernah kita lihat) yang paling dusta ucapannya, dan tidak (pernah kita lihat) yang paling takut ketika bertemu (musuh).”


Ketika dilaporkan kepada Rasulullah SAW dan mereka ditanya, mereka mengatakan, “Kami hanya bergurau.”


Namun, ternyata Rasulullah SAW hanya menjawab dengan membacakan firman Allah SWT:


“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Surah at-Taubah : ayat 65)


Dengan tegas pula Allah SWT menyatakan bahwa berolok-olok dengan Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya adalah kafir:


“Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.”


Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil bahwa menampakkan kata-kata kekafiran, baik dengan sungguh-sungguh mahupun bergurau (main-main) hukumnya kafir. Bahkan, tidak ada perselisihan di antara para imam, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Jauzi.


Demikianlah keadaan kaum munafik. Pada zaman itu mereka menyembunyikan jati dirinya agar tidak turun ayat mendedahkan kejahatan mereka. Pada zaman ini, mereka dengan terang-terangan menampakkan kejahatan tersebut. Mereka terang-terangan menjadikan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya sebagai bahan ejekan, cemuhan dan hinaan. Mereka berusaha menampilkan citra kekafiran, apa pun bentuknya, adalah baik, sedangkan seruan kembali kepada Islam adalah keburukan, radikal, ekstrem, jumud, statis, kemunduran, dan segudang ejekan lainnya. Mereka lebih bangga dengan semua yang serba-Barat. Kemajuan adalah apa yang datang dari Barat.


Hanya kepada Allah kita memohon, semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.


http://www.salafy.or.id

No comments: