20 Mac 2010

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) Orang Kaya yang Zuhud

3 Rabiulakhir 1431H
Email : Shah Bundy

Mungkin orang yang mendengar zuhudnya Imam Ali (sa) berpikiran bahwa beliau adalah seorang pengangguran, penyendiri, miskin, dan berpakaian kotor. Kezuhudannya dikarenakan kemiksinannya itu. Dengan kata lain, mereka berpikiran bahwa ia melepaskan dunia dan duduk di sudut hanya untuk beribadah. Asumsi itu adalah tidak benar. Imam Ali (sa) adalah seorang yang berkemampuan dan pekerja keras. Ia adalah seorang petani yang berbakat dan berpikiran jauh ke depan.

Di masa Rasulullah saw masih hidup, apabila tidak berada dalam peperangan, beliau mengisi waktu kosongnya dalam pertanian, perkebunan, penggalian sumur, pembuatan kanal, dan penanaman pohon kurma. Melalui jalan inilah, beliau memakmurkan perkebunan dan ladang kurma. Sepeninggal Rasulullah saw, di masa khalifah-khalifah yang tiga, beliau juga tidak menyendiri dan menganggur. Beliau mengisi waktu kosongnya dengan menjaga ladang atau kebun serta adakalanya memperluas kebun.

Dari ladang pertanian dan kebun kurma, beliau mendapatkan penghasilan yang melimpah. Namun, di saat yang sama, beliau tidak terikat dengan harta dunia. Beliau tidak membelanjakan hartanya untuk melawan hidup dan memperbaiki kualitas apa yang dimakan atau pakaian keluarganya. Beliau tidak menumpuk untuk masa depan dan anak-anaknya. Beliau sangat zuhud dengan makanan dan pakaian pribadinya. Beliau membelanjakan hartanya di jalan Allah. Beliau membeli ratusan budak lalu membebaskannya dan mewakafkan hartanya untuk kebajikan sosial.

Dituliskan bahwa Imam Ali, dalam setahun, mendapatkan penghasilan seribu dinar dari Gahllah. Namun, beliau menyedekahkan semuanya kepada fakir miskin. (Bihârul Anwâr, jld 40, hlm 26)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: “Ketika membagikan ghanimah, Rasulullah saw memberikan sebidang tanah kepada Imam Ali (sa). Beliau menggali sumur di tanah itu. Kebetulan sumur galian beliau sampai ke mata air, yang seperti leher unta, airnya mengalir deras. Dari situlah, beliau menamakan sumber air itu dengan yambu’ ‘sumur artezin’. Imam Ali (sa) diberi kabar gembira bahwa air sumurnya begitu melimpah. Beliau berkata: “Berilah berita gembira kepada pewarisnya karena kusedekahkan sumur ini kepada hujaj ‘jemaah haji’ Baitullah dan mereka yang lewat. Sumur ini adalah wakaf, tidak dijual, tidak dihadiahkan untuk seseorang, dan juga tidak diwariskan kepada anak anak. Barangsiapa yang menjualnya atau menghibahkannya maka laknat Tuhan kepadanya dan amalnya tidak akan diterima Allah.” (Bihârul Anwâr, jld 40, hlm 26)

Ketika meninggal, beliau berwasiat agar membelanjakan sebagian hartanya di jalan Allah, sebagian untuk anak-anak Fatimah, sebagian untuk anak-anak beliau yang berasal dari selain Fatimah, sebagian untuk Bani Hasyim, dan sebagian untuk anak-anak Abdul Muthalib. (Bihârul Anwâr, jld 41, hlm 40)

2 ulasan:

Tanpa Nama berkata...

saya fikir,ada lagi selain di atas,yang pernah dilakukan oleh saidina ali.beliau adalah pintu ilmu;sepertimana diriwayatkan olah rasulullah.ada riwayat menyatakna beliau mengarang beberapa kitab untuk anak cucunya,ahlul bait rasulullah.

Tanpa Nama berkata...

Salam,

Kenapa tidak di kumpulkan kisah2 ahlul bait dan juga dibuat satu persatuan ahlul bait sebagaimana yg ada pada zaman Umar Al Khattab.