22 Disember 2009

Tertutup

4 Muharram 1431H
Jarjani Usman - Tafakur

“Sesungguhnya seseorang akan tertutup rezekinya karena melakukan suatu dosa” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim). Sabda Nabi tersebut di atas bisa menimbulkan berbagai pertanyaan. Di antaranya, mengapa sebahagian orang yang seringkali berkubang dengan pekerjaan-pekerjaan yang berlumuran dosa, malah semakin terbuka dan banyak rezekinya?

Menurut, Imam al-Ghazali, tertutup rezeki yang dimaksud adalah dijauhkan dari rahmat Allah. Tanda-tandanya dapat dirasakan melalui perubahan-perubahan yang ada pada diri kita sendiri. Perubahan tersebut seperti terasa mudah atau tertolong ketika berkeinginan untuk melakukan suatu keburukan atau kemaksiatan. Namun di sisi lain, merasa tak mudah tergugah untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Akibatnya, harta haram semakin lama semakin menumpuk, dan semakin sulit untuk dipisahkan dengan yang halal.

Apalagi di saat yang sama, orang berharta, terlepas dari status halal haramnya, bagaikan gula yang membuat semut-semut mendekat. Yang memiliki harta pun seringkali merasa bangga dengan penghormatan dan sanjungan-sanjungan dari “semut-semut” yang mendekati dan memujanya. Senang mendapat sanjungan dan penghormatan membuat seseorang tak mudah berhenti dari mencari harta haram.

Dari pendapat Imam Al-Ghazali juga dapat difahami bahwa rezeki itu bukan hanya dalam bentuk harta benda dunia. Petunjuk Allah untuk hidup di jalan yang benar adalah rezeki yang paling utama dan tiada duanya. Dengan kata lain, harta yang banyak belum tentu bisa dikatakan rezeki, bila membuat pemiliknya semakin tinggi hati dan sibuk sehingga tak sempat melakukan ibadahnya dengan baik kepada Allah.

Serambinews/-

Tiada ulasan: